TERKINI
NEWS

Dilema Demokrat; dari Isu Sadap Hingga Ditinggal Kader

BANDA ACEH - Akhir-akhir ini nampaknya Partai Demokrat sedang diguncang dilema. Berbagai persoalan mencuat, mulai dari pimpinan Partai Demokrat yang diduga disadap hingga ditinggal kadernya…

ADI GONDRONG Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.4K×

BANDA ACEH – Akhir-akhir ini nampaknya Partai Demokrat sedang diguncang dilema. Berbagai persoalan mencuat, mulai dari pimpinan Partai Demokrat yang diduga disadap hingga ditinggal kadernya satu per satu. 

Hal ini tentu merupakan persoalan rumit bagi partai yang sudah sudah berkuasa selama lebih satu dekade itu. Sejak awal muncul pada 2001 silam, Demokrat telah mampu mengambil simpati masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan menjabatnya 'ikon' Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI selama dua periode melalui pemilihan langsung. 

Rasa manis itu juga dirasakan sampai ke Aceh. Jamak masyarakat Aceh condong ke Demokrat saat pemilihan presiden dilakukan secara langsung. SBY pun sempat meraup banyak suara di Aceh. Hingga sekarang, partai berlambang mercy itu juga mendapatkan 8 kursi di DPRA. Jumlah yang cukup banyak bagi sebuah Parnas di tengah 'kekuasaan' partai lokal. 

Namun, entah angin apa yang berhembus, Si Biru (julukan Demokrat) mulai diterpa isu tak sedap. Mulai dari polemik Cikeas hingga label 'Partai Keluarga' pun kembali muncul, saat SBY menunjuk putranya Agus Yudhoyono untuk maju dalam Pilkada DKI.

Tak hanya itu, teranyar Pimpinan Umum Partai Demokrat, SBY, juga dikabarkan telah disadap. Dugaan itu mencuat justru saat berlangsungnya persidangan Basuki Tjahaya Purnama yang terjerat kasus penistaan agama. Basuki yang dikenal dengan Ahok itu merupakan rival politik Agus Harimurti Yudhoyono, anak SBY, yang jelas-jelas jauh kelas dibandingkan SBY.

Informasi penyadapan itu membuat SBY berang dan meminta klarifikasi dari pemerintah. Bola salju terus bergulir akibat dugaan penyadapan tersebut. Belum lagi permasalahan sadap menyadap usai, kediaman SBY malah digeruduk para demonstran. Hal ini turut menyiratkan kekuatan Demokrat di tingkat elit melemah.

Di saat yang bersamaan pula, belasan kader setia Demokrat di Aceh malah hengkang. Padahal saat ini adalah momen penting bagi mesin politik untuk bekerja. 

Bukan kader sembarangan, yang hijrah itu merupakan elit partai di tingkat provinsi. Sebut saja diantaranya Miryadi Amir yang selama ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Demokrat Aceh. Miryadi juga disebut-sebut sebagai perintis Partai Demokrat di Aceh. Kini, Miryadi Amir rela menanggalkan pakaian kebesarannya di Demokrat dan bergabung dengan Hanura, partai yang terbilang baru di dunia perpolitikan Indonesia.

“Alasan saya pindah adalah karena tidak nyaman lagi. Banyak kebijakan Partai Demokrat yang sudah tidak sejalan lagi dengan saya. Salah satunya adalah dalam keputusan pemilihan kepala daerah 2017 ini,” kata Miryadi kepada wartawan saat bergabung ke Hanura. 

Miryadi dengan penuh percaya diri melepas jaket biru yang dipakai dan menggantinya dengan jaket kuning kunyit milik Hanura. Dengan lantang ia berkata akan mengabdikan diri pada Hanura dan akan membawa partai ini menjadi besar.

“Dengan sekuat tenaga saya akan membesarkan Hanura. Dan 2019 semoga kita bisa menyalip Si Biru,” kata Miryadi.

Guncangan tersebut tentu menjadi problema yang tidak kecil bagi Demokrat mengingat sekarang adalah musim pillkada. Apalagi Demokrat mengusung kader sendiri, Nova Iriansyah, yang menemani Irwandi sebagai calon Wakil Gubernur Aceh di Pilkada 2017 ini. 

Hengkangnya para kader ini menyiratkan adanya perpecahan di internal Partai Demokrat Aceh. Bisa saja keinginan Nova Iriansyah tidak sejalan dengan kader Demokrat Aceh lainnya. Apalagi saat ini Hanura mendukung pasangan Muzakir Manaf – TA Khalid, yang jelas-jelas merupakan rival terberat Irwandi-Nova di perhelatan Pilkada 2017.

Setelah hijrah, Miryadi Amir cs bahkan dengan lantang meneriakkan “Salam Panglima.” Selanjutnya, nasib apa yang bakal menimpa Demokrat di Aceh? Apakah kembali gagal seperti halnya Pilkada 2012 lalu saat Nova Iriansyah berduet dengan Muhammad Nazar? Atau mereka bakal sukses pasca ditinggal kader yang selama ini bekerja setengah hati? Entahlah.[]

ADI GONDRONG
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar