TERKINI
BUDAYA

Di antara Wabah

Karya Taufik Sentana* Seakan jari jari maut begitu tajam dan kejam. Mencengkeram, merenggut dan memisahkan. Yang tersisa adalah ketidak-berdayaan, pasrah dan harapan harapan. Puncak peradaban…

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 1 menit
SUDAH DIBACA 229×

Karya Taufik Sentana*

Seakan jari jari maut begitu tajam
dan kejam. Mencengkeram, merenggut dan memisahkan. Yang tersisa adalah ketidak-berdayaan, pasrah dan harapan harapan.

Puncak peradaban kita bagai monolog panjang dalam sunyi-kelam. Diantara wabah, kita semakin asing dan kosong, atau tampak bodoh dalam membaca gejala dan mengeja tanda tanda.

Telah berlalu di tengah kita beberapa wabah, sebagian lagi tersebar dalam siklus alam. Padahal ini bukan semata siapa yang terkuat.

Diantara wabah, pengetahuan dan kesadaran kita terbelah. Kita seakan menyusun kerangka baru dalam menerjemahkan hidup 
dan mempelajari pola pola baru
tentang esok.

Sedang di sisi lain,
pertempuran dan persekongkolan
seakan merambah. Hegemoni dan kolonisasi merambat ke celah celah tanah negeri, seakan ia wabah baru yang akan menegepung kita:

Atau apakah kita mesti selalu “membiasakan diri saja dan seakan tak pernah terjadi apapun?”[]

*Banyak menulis puisi dan esai sosial.

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar