LHOKSEUMAWE -- Suhati, 39 tahun, seorang ibu rumah tangga dari keluarga miskin di pedalaman Aceh utara mengidap penyakit kanker tulang ganas. Dalam dunia medis dikenal…
LHOKSEUMAWE — Suhati, 39 tahun, seorang ibu rumah tangga dari keluarga miskin di pedalaman Aceh utara mengidap penyakit kanker tulang ganas. Dalam dunia medis dikenal dengan istilah Chondrosarcoma.
Warga Dusun Abeuk Lhok, Gampông Cot Lambideng, Kecamatan Sawang, sudah tidak punya biaya lagi untuk berobat. Ia membutuhkan dana Rp400 juta lebih untuk menyelamatkan kakinya dari amputasi.
Kata dokter di Banda Aceh kaki saya harus dipotong (amputasi) hingga pangkal paha, saya tidak mau, kalau sampai lutut, silakan saja. Dokter juga bilang, tulang kaki saya yang dipotong bisa diganti dengan tulang buatan, tapi biayanya Rp400 juta lebih, kata Suhati ditemani suaminya Hasan Basri, 41 tahun, kepada portalsatu.com, Rabu, 4 Oktober 2017.
Wanita itu mengaku mulai susah berjalan sejak dua tahun lalu. Sejak lutut kirinya membengkak hingga sebesar buah labu. Setiap tengah malam ia merasakan perih di bagian persendian pinggul. “Sakitnya di bagian pinggul, saya tidak bisa jalan lagi, karena bengkaknya sudah besar sekali,” keluh Suhati sambil memegang pinggulnya.
Selama sakitnya semakin parah, ibu dari dua putra dan satu putri itu hanya bisa duduk dan tidur di ranjang kayu yang dibuat khusus oleh suaminya di ruang tengah rumahnya. Semua pekerjaan rumah, mulai dari memasak, mencuci sampai merawat anak-anak dilakukan sepenuhnya oleh sang suami.
Keluarga ini menempati rumah yang luasnya hanya 6×4 meter. Berdinding tepas yang sudah bolong-bolong, masih lantai tanah dan atap rumbia, juga terlihat sebagian besar sudah rusak.
Ia bercerita, kanker ganas yang telah menggerogoti bagian tulang kakinya berawal dari benjolan kecil yang muncul di lutut beberapa hari setelah terjatuh di tahun 2012 lalu. Saat itu ia sedang hamil tua anak ketiga. Awalnya Suhati mengira dia hanya terkilir biasa. Kakinya hanya diurut secara tradisional di desanya.
Tak lama berselang benjolan itu mulai membesar. Ia dan suami mulai khawatir, dengan dana seadanya ia nekad berobat ke Rumah Sakit Cut Meutia, Lhokseumawe. Saat itulah dirinya tahu mengidap kanker tulang ganas. Dokter tidak bisa melakukan operasi karena ia masih hamil.
Setelah melahirkan saya berobat ke RSU Zainal Abidin. Dokter menyarankan kaki diamputasi hingga pangkal paha, karena kankernya sudah ganas. Saya dan suami tidak setuju, karena masih berharap ada jalan keluar lain atau bisa sembuh dengan berobat secara tradisional, terang Suhati diaminkan suaminya.
Sedangkan Hasan Basri mengaku, sudah beberapa kali membawa istrinya berobat ke Banda Aceh. Terakhir sempat rawat inap selama 10 hari dan terpaksa kembali ke kampung pada akhir September lalu, karena tidak ada lagi uang makan.
Walau biaya medis ditanggung BPJS Kesehatan, untuk sekali berobat ke Banda Aceh, saya butuh uang beberapa juta. Itu untuk kebutuhan makan saudara yang membantu jaga, untuk kebutuhan anak-anak yang kami tinggal di kampung, kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh upahan di sawah itu.
Hasan mengaku tidak punya biaya lagi untuk kelanjutan berobat sang istri, bahkan utang yang harus dibayar ke tetangga dan kerabat masih tersisa Rp5 juta. Saat ini satu-satunya cara untuk melunasi utang dengan nyicil yang disisihkan dari upah kerja di sawah.
Pendapatan hari-harinya hanya cukup untuk makan keluarga dan untuk biaya sekolah anaknya, Dedek Hermawan yang duduk di bangku SMP, dan Reva yang masih duduk di bangku kelas IV SD. Sedangkan yang paling kecil Muhammad Maulidi masih berusia 4 tahun.
Hasan, berharap ada bantuan dana dari dermawan, dengan harapan penyakit istrinya terobati. Bahkan ia masih memiliki asa kaki istrinya tidak diamputasi, dan bisa disembuhkan dengan cara lain.[]