Aceh bukan hanya terkenal pantai dan wisata alamnya. Bermacam situs sejarah di berbagai lokasi bernilai sejarah tinggi. Salah satunya Lonceng Cakra Donya di Museum Aceh, Banda Aceh.
Bagi masyarakat Aceh, lonceng bersejarah yang dibuat pada tahun 1409 Masehi itu sudah tidak asing lagi. Lonceng berbentuk stupa, setinggi 125 sentimeter dan lebar 25 sentimeter. Masih kokoh tergantung di halaman Museum Aceh. Inilah saksi bisu kekuatan armada militer Kerajaan Aceh Darussalam di masa jayanya.
Berdasarkan catatan sejarah, lonceng itu adalah hadiah Kaisar Yonglee yang berkuasa di daratan Tiongkok kepada Kerajaan Samudra Pasai, sebagai wujud persahabatan kedua kerajaan. Lonceng itu diantarkan langsung oleh Laksamana Ceng Ho ketika melawat ke Aceh guna membangun kerja sama dalam bidang keamanan dan perdagangan.
Karena itu, armada laut yang dimiliki Kerajaan Samudra Pasai sangat kuat, bahkan memiliki kapal induk terbesar di dunia yang akhirnya direbut oleh kerajaan dari Portugis lalu diserahkan ke Spanyol.
Tetapi lonceng ini tidak direbut oleh Portugis karena ini adalah hadiah termegah dari kerajaan China dan bentuk ikatan persahabatan dengan China. Mungkin dengan pertimbangan itu, lonceng ini tidak pernah direbut oleh penjajah mana pun, kata Tarmizi Abdul Hamid, seorang kolektor manuskrip Aceh, Kamis, 28 September 2017.
Saat Kerajaan Pasai takluk di tangan Kerajaan Aceh Darussalam pimpinan Sultan Ali Mughayatsyah pada 1542 Masehi, lonceng itu disita dan dibawa ke Koetaradja (sekarang Banda Aceh), pusat Kerajaan Aceh Darussalam. Pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636).