TERKINI
PROFIL

Bolehkah Menukar Beberapa Unit Transkoetaradja dengan Kapal ke Pulo Aceh

"Jikalau beberapa dari mobil-mobil (transkoetaradja) itu dijual dan dibelikan kapal penyeberangan bagi masyarakat Pulo Aceh."

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.2K×

Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai
 
Transportasi baik untuk darat, udara dan laut sangat-sangat dibutuhkan. Manakala semua itu sudah menjadi kebutuhan, pada dasarnya. Melihat berita di harian Serambi Indonesia hari ini (05-06-2016), bahawa transportasi selama puasa menjelang hari raya Idul Fitri nantinya, akan ada enam kapal pembantu untuk membantu transportasi jalur laut antar pulau di Aceh.
 
Di kala berbicara tentang transportasi dan pulau-pulau, pasti kita teringat akanpada alat penyeberangan (kapal). Beberapa pulau di Aceh memang sudah mempunyai alat penyeberangan sendiri, sedari dulu. Namun masih ada juga beberapa pulau yang masih belum memilikinya sama sekali, sampai sekarang. Yaitu Pulo Aceh.
 
Walaupun, selama puasa ini dan menjelang hari raya nanti, Pulo Aceh termasuk salah satu pulau yang akan mendapat layanan kapal penyeberang. Adalah selama puasa dan menjelang liburan nanti. Setelah itu, pasti mereka (masyarakat yang ada di Pulo Aceh) akan menggunakan alat transportasi seperti semula lagi. Yaitu ‘Bot Ikan’.
 
Penumpang, barang-barang bawaan. Adakala kereta, sepeda, sembako, binatang ternak dan semuanya dibawa dengan boat ikan tersebut. Tiada alat transportasi lain untuk bepergian ke sana, meskipun Banda Aceh sudah memiliki beberapa alat transportasi baru di tahun ini (Transkoetaradja).
 
Mungkin sahaja, jikalau beberapa dari mobil-mobil (transkoetaradja) itu dijual dan dibelikan kapal penyeberangan bagi masyarakat Pulo Aceh. Sungguh mereka akan sangat-sangat bahagia, keselamatan pun akan lebih lagi terjaga. Mereka juga bisa pulang-pergi sehari dua kali, dari pada hari-hari biasanya yang hanya satu kali.  
 
Apalagi kalau dibandingkan dengan Sabang, Pulo Weh. Yang berada di sebelahnya (Pulo Aceh). Alat transportasi untuk ke pulau itu ada dua macam kapal, baik kapal cepat dan kapal lambat. Sebenarnya apa yang menjadi perbedaan diantara dua pulau terindah di ujung sumatera ini? Berhingga seperti anak tiri dan anak kandung.
 
Saban hari, Sabang, dengan kemajuannya yang sekarang ini. Sungguh sudah sangat cukup untuk dibenahi, bila dibangdinkan dengan Pulo Aceh. Bukan dengan pulau-pulau yang ada di dunia ini, itu sungguh sangat tiada mungkin untuk menyamakannya, belum pada waktunya.     
 
Dan apa yang sudah diwacanakan oleh tukang wacana begitu juga dengan apa yang sudah diprogram oleh (pemimpin) untuk kemaslahatan masyarakat yang berada di Pulo Aceh, kita masih bertanya-tanya! Senantiasa terus akan menunggu kemajuan akan kemajuan untuk pulo indah paling ujung tersebut.
 
Kapankah mereka akan mempunyai alat transportasi (kapal) sendiri, yang khusus untuk penyeberangan masyarakat yang ada di sana (Pulo Aceh) selamanya. Bukan hanya untuk sementara sahaja (Bulan Puasa dan Hari Raya Idul Fitri ini). Semoga dengan segera!

Dan kita berharap pada pemerintah Aceh, “Janganlah ada program tambak cot. Kerana bukit itu sudah tinggi dan tak perlu ditimbun lagi, yang perlu ditimbun itu adalah tempat-tempat yang rendah, lembah. Agar sama rata di antara sesamanya!”[]

*Syukri Isa Bluka Teubai, alumnus Sekolah Hamzah Fansuri, salah seorang penulis buku berjudul “Horison Pulo Aceh” yang dijadwalkan terbit tahun ini.

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar