TERKINI
EKBIS

BI: Pertumbuhan Perekonomian Aceh 2015 Melambat. Mengapa?

Ekspor luar negeri migas Aceh yang menurun drastis dan besarnya impor domestik merupakan penyebab utama menurunnya perekonomian Aceh.

ZIKIRULLAH ALFARISI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 5 menit
SUDAH DIBACA 2.3K×

BANDA ACEH – Bank Indonesia (BI) menyatakan pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan III 2015 sebesar -0,38 persen. Sedangkan triwulan IV 2015 diperkirakan akan tumbuh positif antara 0,53 persen dan 0,84 persen. Namun secara keseluruhan, pertumbuhan perekonomian Aceh tahun 2015 mengalami kontraksi (menurun/melambat).  

“Perekonomian Aceh selama tahun 2015 mengalami trend peningkatan secara triwulanan, namun secara tahunan diperkirakan masih terkontraksi dalam kisaran -1,43% dan -0,38%,” tulis BI dalam Hasil Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional  Provinsi Aceh Triwulan III 2015 dipublikasikan lewat laman resmi BI pada pekan ketiga November ini. Hasil kajian BI itu diperoleh portalsatu.com, Kamis, 26 November 2015.

Menurut BI, salah satu faktor penyebab utama terkontraksinya ekonomi Aceh adalah akibat defisitnya neraca dagang Aceh. Ekspor luar negeri migas Aceh yang menurun drastis dan besarnya impor domestik (antardaerah) merupakan penyebab utama menurunnya perekonomian Aceh.

“Walaupun ekspor luar negeri nonmigas Aceh mengalami peningkatan, kinerjanya diperkirakan masih akan terganggu oleh tren penurunan harga komoditas dunia, khususnya komoditas ekspor unggulan di sektor pertanian perkebunan seperti kelapa sawit, coklat dan kopi. Selain itu, menurunnya ekonomi Aceh dipicu oleh sektor pertambangan dan industri pengolahan yang terkontraksi cukup dalam,” tulis BI.

Dari sisi permintaan, menurut BI, hingga akhir tahun 2015 kinerja perekonomian Aceh secara keseluruhan masih mengalami kontraksi. Terutama akibat defisit neraca perdagangan, atau dengan kata lain komponen impor masih lebih besar dibandingkan ekspor. 

“Pertumbuhan impor barang dan jasa antardaerah (domestik) diperkirakan meningkat untuk merespon peningkatan konsumsi rumah tangga di tahun yang kebutuhannya masih belum mampu diakomodir di dalam Aceh sendiri”.

BI melanjutkan, aktivitas percepatan pembangunan pembangkit listrik geothermal dan Bendungan Keureuto (Aceh Utara) juga berpotensi meningkatkan impor luar negeri, terutama terkait pengadaan mesin-mesin/pesawat mekanik dan mesin/peralatan listrik. Oleh karena itu, impor Aceh selama tahun 2015 diproyeksikan tumbuh meningkat antara 4,87 persen hingga 5,92 persen.

“Dari komponen ekspor, ekspor antardaerah diperkirakan akan masih dipicu ekspor gabah ke Sumatera Utara. Cuaca yang relatif lebih baik pada tahun ini, serta adanya UPSUS (upaya khusus, red) peningkatan produksi gabah membuat produksi gabah Aceh pada tahun 2015 diperkirakan meningkat signifikan”.

Menurut BI, besarnya penjualan gabah ke Sumatera Utara (SUmut) memberikan andil besar terhadap kinerja ekspor antardaerah di Aceh. Namun impor beras yang juga besar dari Sumut menjadi trade off terhadap perdagangan Aceh.

“Ekspor luar negeri Aceh diperkirakan masih akan mengalami kontraksi karena masih terpengaruh berakhirnya ekspor LNG tahun lalu. Walaupun ekspor luar negeri nonmigas Aceh mengalami peningkatan, kinerjanya diperkirakan masih akan terganggu tren penurunan harga komoditas dunia, khususnya komoditas ekspor unggulan di sektor pertanian perkebunan seperti kelapa sawit, coklat dan kopi. Oleh karena itu, ekspor Aceh selama tahun 2015 diproyeksikan akan mengalami kontraksi antara -1,72% dan -0,67%,” tulis BI.

Masih menurut hasil kajian BI, komponen investasi sangat tergantung pada realisasi APBA (Provinsi) maupun kabupaten/kota (APBK). Jika realisasi APBA mempertahankan tren meningkat seperti triwulan III 2015 yang tumbuh 6,31 persen, maka hal tersebut akan meningkatkan kinerja investasi pada akhir tahun, walaupun investasi mengalami kinerja negatif sampai triwulan III 2015.

“Realisasi APBA terutama untuk proyek pembangunan diperkirakan akan mem-boosting kinerja investasi pada akhir tahun. Pada kondisi tersebut investasi Aceh pada tahun 2015 diproyeksikan tumbuh sebesar antara -0,37% dan 0,68%”. 

“Konsumsi rumah tangga diperkirakan akan tumbuh antara 2,78% dan 3,83%. Apresiasi nilai tukar yang terjadi pada akhir tahun 2015 ini serta penerapan kebijakan paket III pemerintah yang menurunkan beberapa tarif listrik dan gas diperkirakan akan meningkatkan daya beli masyarakat”.

Namun, menurut BI, pemenuhan konsumsi berasal dari impor menjadi kendala tersendiri yang membuat konsumsi rumah tangga bukan merupakan komponen optimal dalam menopang ekonomi Aceh. Sementara itu, komponen pengeluaran pemerintah menjadi kunci penting dalam mendorong ekonomi Aceh. 

“Realisasi APBA Provinsi maupun kota/kabupaten mengalami peningkatan pada triwulan III 2105 yang ditunjukan pertumbuhan konsumsi/pengeluaran pemerintah yang tumbuh 6,31%. Jika koordinasi Pemerintah Aceh hingga akhir tahun mendukung pelaksanaan program-program maka realisasi APBA akan membuat konsumsi/pengeluaran pemerintah dalam PDRB tumbuh meningkat sebesar 2,24% hingga 3,29%”.

Dari sisi penawaran, BI melanjutkan, menurunnya ekonomi Aceh dipicu sektor pertambangan dan industri pengolahan yang terkontraksi cukup dalam. Penghentian ekspor mineral mentah dan morotarium tambang serta berhentinya produksi gas masih menjadi pemicu utama menurunnya kinerja sektor ini.

Selain itu, kinerja proyek terminal regasifikasi terkendala lambannya penyerapan gas yang dipicu tingginya harga jual gas kepada industri di wilayah Sumut maupun Aceh yaitu pada kisaran harga USD 14-16/MMBTU. “Namun demikian pembukaan tambang batu bara di kawasan Peunaga Cut Ujong diharapkan dapat menahan laju perlambatan dari sektor pertambangan,” tulis BI.

BI menyatakan, perpanjangan izin terkait penyaluran gas sebanyak 6-7 MMBTU/jam juga diharapkan dapat menahan kontraksi sektor industri pengolahan pada tahun 2015. Dengan kondisi tersebut sektor pertambangan dan industri pengolahan diperkirakan akan mengalami kontraksi masing-masing sebesar -24,21 dan -20,30 persen dibandingkan tahun 2014.

Sementara itu, sektor utama yang diperkirakan akan menjadi penyangga ekonomi Aceh di tengah penurunan ini adalah sektor pertanian, perdagangan dan  transportasi. Sektor pertanian diproyeksikan mengalami peningkatan seiring dengan tren peningkatan luas lahan pertanian dan musim panen beras, bumbu-bumbuan, buah-buahan dan sayuran.

Namun demikian, menurut BI, penurunan harga komoditas unggulan seperti sawit, kakao dan kopi dapat menghambat pertumbuhan pada sektor ini. Dengan kondisi tersebut, sektor pertanian diperkirakan masih akan mengalami pertumbuhan yang signifikan antara 4,55 sampai 5,55 persen dibandingkan tahun 2014.

Peningkatan sektor perdagangan diperkirakan meningkat sejalan dengan peningkatan konsumsi rumah tangga dan kinerja sektor transportasi didukung peningkatan kunjungan wisatawan ke Aceh yang mengalami peningkatan di tahun 2015.

“Dari sisi eksternal, terdapat beberapa risiko yang masih perlu diwaspadai, antara lain: Downside risk pertumbuhan ekonomi global, berlanjutnya penurunan harga komoditas serta risiko di pasar keuangan global masih tinggi sejalan dengan ketidakpastian kenaikan FFR, ketidakpastian krisis Yunani, serta anjloknya harga saham di Tiongkok. Namun demikian, India sebagai negara tujuan ekspor utama komoditas dari ProvinsiAceh diperkirakan akan kembali meningkat didukung perbaikan konsumsi dan investasi,” tulis BI.[]

Baca juga:

Pertumbuhan Ekonomi Aceh Melambat, Apa Saja Pemicunya?

Pertumbuhan Ekonomi Aceh Terendah

ZIKIRULLAH ALFARISI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar