TERKINI
FEATURE

Berziarah ke Makam Para Aulia (Para Wali)

BERZIARAH ke makam Tgk. Chik Awe Geutah pun menjadi pilihan kami di lebaran Idul Fitri ini, 1438 H/2017. Makam yang berada di wilayah Gampong Awee…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 2.6K×

BERZIARAH ke makam Tgk. Chik Awe Geutah pun menjadi pilihan kami di lebaran Idul Fitri ini, 1438 H/2017. Makam yang berada di wilayah Gampong Awee Geutah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen itu membutuhkan beberapa puluh menit jika perjalanan ditempuh dari wilayah Lhokseumawe.

Pagi itu, terlebih dahulu perjalanan dimulai dari makam Tgk. Chik Di Paloh. Dan baru kemudian perjalanan kami teruskan dengan mengambil jalan jalan bebas hambatan (jalan elak) penghubung dari Krueng Mane sampai ke Buket Rata.

Ternyata mengambil jalan yang jarang kami lalui adalah tidak menjadi lebih mudah, soalnya jalan yang harus kami lalui adalah dengan mengambil jalan lurus, namun ketika di suatu persimpangan dari arah timur kami belok ke arah kiri.

Rasa ragu itu pun kemudian hilang dengan adanya GPS yang dapat diakses oleh keponakan yang kutumpangi di di belakang kereta, dan setelah itu hati merasa membantah bahwa ke arah jalan raya kami semakin menjauh.

Dalam perjalanan itu kembali hati menjadi cemas dan ragu dengan hilangnya koneksi GPS di ponsel. Sesekali aku menatap arah bayang matahari dan posisi gunung. Ternyata barisan bukit-bukit pegunungan adalah tepat telah berada di depan kami atau arah yang kami lalui adalah sedang berjalan ke arah selatan bukan ke barat.

Sedang bila arah kami benar ke barat, tentu arah barisan pegunungan berada di sisi kiri kami. Namun di saat itu kami pun menikmati saja perjalanan yang tidak terencana itu karena udara di pegunungan sangat segar untuk bernafas.

Tanpa terasa bahan bakar yang kami isi pun telah berkurang lebih setengah dari tangki kereta kami. Jalan–jalan menanjak itu pun terus membawa sepeda motor kami hingga melewati bebukitan gunung yang hawa dinginnya sama dengan suhu di dataran tinggi Gayo. Dan semakin lama makin terlihat pohon-pohon besar di bebukitan yang ada di depan mulai terlihat besar.

Karena rasanya kami telah berjalan terlalu jauh kearah selatan, kemudian kami menghentikan sepeda motor dan menanyakan pada salah seorang penjual di kios dekat dengan pinggir jalan. Katanya, di depan kami itu adalah Gunung Salak.

Setelah itu, kami pun kembali dengan harapan masih dapat tiba di makam Tgk. Chik Awee Geutah ketika hari belum ashar.  Hari semakin terik dengan panasnya yang mulai terasa, artinya kami telah turun menjauh dari gunung dan di perempatan kami mengambil arah yang benar, tibalah juga di sana setelah menanyakan tempat itu pada seorang penjaga warung kopi yang tidak jauh dari makam tersebut.

Ketika setelah azan dhuhur kami pun tiba di makam tersebut. Kami bergabung dengan kawan yang telah lebih dahulu sampai, dan bertemu dengan teungku penjaga makam tersebut yang tengah melayani tamu-tamunya.

Setelah melihat saya, beliau menyangka bahwa saya wartawan. Namun saya katakan bahwa yang wartawan itu adalah abang saya. Walau telah beberapa tahun yang lalu, lamanya namun beliau masih dapat mengingat-ingat wajah tetamunya.

“Atau mungkin karena dahulu abang saya pernah mewawancarayi beliau selama sejam lebih,” demikian pikirku.

Rerimbunan pohon- pohon di halaman komplek terlihat semakin tumbuh memjadi besar dan menghalang pandangan. Rumah Aceh peninggalan Teungku Chik Awe Geutah juga terlihat semakin tua. Tiang-tiang yang berbaris menghubung antara dua bangunan yang mirip seperti sebuah gerbang juga bagai diam menyimpan kisah-kisah yang tak pernah diketahui manusia.

Hari semakin cerah dan berawan. Lebaran ini rumah peninggalan Tgk. Chik Awee Geutah terlihat sepi, hanya satu dua saja tamu yang datang kadang berganti dan pergi. Namun masih bisa dikata baik jika dibanding dengan perawatan makam Tgk. Chik di Paloh yang belukarnya telah menyelimuti dinding bagai tak, tak terawati.

Makam terpagar di atas tinggi timbunan tanah dengan kain–kain putih yang terikat di jeruji-jeruji.

Balai khalut terlihat sepi dengan sumur khalud yang tetap terkunci kadang dibuka bila ada tamu yang datang.

Cincin sumur mon khalut berukir indah seperti yang ada di Pulo Reudeup tempat asal ibu kami.

Kata para ahli tarikh, sejarah terukir menepi pergi setelah Belanda mencampuri urusan negeri. Segala bentuk bidang bangunan menjadi datar tanpa seni.

Syeikh doa kami rapuh karena terbalut kealpaan, dengan sebab itu bisikkan hati-hati kami menjadi semakin dekat dengan kebaikan. Membina hati terus tunduk pada Allah sepanjang masa.[]

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar