TERKINI
HEALTH

Belajarlah dari Sosok ‘Bukuem’

SOSOK bukuem yang berada di laut dan tercecer di pantai menjadi pemandangan dengan makna tersendiri. Ikan ini kian disentuh makin membesar. Ini sungguh unik. Salah…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 1.2K×

SOSOK bukuem yang berada di laut dan tercecer di pantai menjadi pemandangan dengan makna tersendiri. Ikan ini kian disentuh makin membesar. Ini sungguh unik. Salah satu ibrah (pelajaran) yang dapat dipetik di balik apa yang terjadi, di dalam masyarakat dan bangsa ini laksana bukuem alias ikan buntal.

Fenomena ikan buntal persis seperti masalah bangsa yang sedang terjadi di tanah air kita. Awalnya, masalah itu kecil, bahkan kurang diperhitungkan. Terus masalah itu diabaikan karena dianggap akan selesai dengan sendirinya. Masalah yang diabaikan, tanpa disadari akan ditambah dengan masalah lain. Lama kelamaan, masalah itu terus membesar seperti ikan buntal yang ditendang anak-anak nelayan di pantai. Pada akhirnya, masalah tersebut menjadi “bola” liar di tengah jalan.

Tentu saja mereka yang lewat pasti menendang bola ikan buntal itu. Makin ditendang, makin bertambah besar masalahnya sampai akhirnya semua dibikin repot.

Sangat banyak kasus yang menimpa negeri ini yang tidak mungkin kita sebutkan satu persatunya. Misalnya, awalnya hanya sebuah kasus tertangkap tangan. Namun, lama-lama kok kasus ini terus berkembang sampai menyentuh para elite politik. Makin banyak dikomentari, makin banyak yang salah menjawab sampai akhirnya masalah ditutup dengan masalah baru. Kasus ini dari hari ke hari terus melebar dan melebar, kita tidak tahu sampai di level mana kasus ini baru berhenti. Ini persis seperti “bukuem” kian membesar pasca ditendang oleh mereka yang “bermain” di arena tersebut.

Coba diperhatikan juga masalah bangsa yang lain, seperti kemiskinan, prostitusi, narkoba dan sejenisnya. Apabila pemimpin tidak mampu membasmi dan mengurangi efektivitas dari masalah tersebut, tentu saja makin lama terus membesar dan menyeret sejumlah orang penting. Kini, kasus itu menjadi ikan buntal yang ditendang orang kemana-mana. Sunggguh sangat banyak lagi contoh-contoh lain yang membiarkan masalah kecil karena dianggap akan padam sendiri, ternyata kemudian berubah menjadi persoalan besar.

Ikan buntal adalah ikan beracun yang tidak mungkin dikonsumsi manusia. Kita pasti menyakini bahwa Allah SWT sebagai Sang Khalik pasti ada manfaatnya, termasuk ikan buntal.
 Ini sebagaimana diungkapkan dalam firman Allah SWT berbunyi: “… Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali 'Imran: 151).

Sekarang ini apa yang terjadi Aceh juga tidak menutup kemungkinan. Berbaagi persoalan yang diselesaikan, tentu saja saat klimak nantinya, akankah lahirnya “separatis” dan “Gerakan Aceh Merdeka “(GAM) jilid II? Tentu saja tidak mustahil ini akan terjadi dan berulang kembali. Bukankah sejarah itu hanyalah dilakoni oleh para pelaku yang berbeda namun “alur cerita” terkadang tujuannya masih sama dan tentu saja sang “sutradara” yang lihai dalam memainkan “pemain” dan “pelaku” di dalamnya.

Ataukah settingan itu “sedang” dimulai kembali? Semoga tidak. Harapan kita tidak ingin negeri ini jatuh ke dalam lobang yang sama, sekali lagi itu tidak mustahil. Bijak dalam menyikapi masa lalu demi menghadapi masa depan, seperti apa yang diungkapkan sang presiden Amerika Serikat, Donald Trump, “Saya belajar dari masa lalu, tapi saya merencanakan masa depan dengan fokus secara eksklusif pada saat ini.”

Agar kita bisa mencapai kesuksesan, hal yang harus dilakukan ialah belajar dari masa lalu. Kegagalan yang pernah dialami oleh bangsa ini telah menyimpan banyak makna yang bisa kita ambil hikmahnya. Tanpa mengalami itu semua, kita tidak akan tahu apa kesalahannya. Di sini, kita harus mengambil kesempatan untuk belajar. Jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan ini karena kita bisa mendapatkan banyak pelajaran berharga. Ingat ya, masa lalu bukan untuk disesali akan tetapi untuk dijadikan sebagai bahan renungan karena ada banyak pelajaran dan makna yang terkandung di dalamnya.

Beranjak dari itu berbagai fenomenanya mengajarkan kepada kita bahwa masalah kecil harus segera diselesaikan, jangan anggap remeh terhadap sebuah masalah. Membesarnya sebuah masalah seperti membesarnya tubuh ikan buntal yang disentuh, apalagi kalau ditendang.

Sosok “Bukuem” telah mengajarkan kepada kita bahwa sebuah masalah harus diselesaikan selagi masih kecil, jangan biarkan masalah itu menjadi bola besar. Pada awalnya ingin menakuti yang lain, ternyata akhirnya merangsang orang untuk menendangnya. Sebuah masalah, makin ditendang dengan cara yang tidak baik makin menarik perhatian orang untuk menggalinya lebih dalam lagi.

Oleh karena itu, “bukuem” yang dijadikan sebagai “bola” oleh sebagian anak nelayan kita, mengajari kita untuk belajar dari alam, salah satunya adalah belajar dari ikan buntal (bukuem) tersebut. Apapun indikatornya, yang jelas alam dan ‘bukuem” itu merupakan sosok muallim (guru) untuk manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Setiap saat, alam mengajarkan kita akan makna dan pelajaran kepada manusia.[]

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar