TERKINI
FEATURE

Begini Budaya Kerja Remaja Minnesota, Patut Dicontoh

Oleh: Kahfi Rafsanjani Alhamdullilah, sudah enam bulan saya berada di Negeri Paman Sam dalam rangka pertukaran pelajar selama setahun ke depan. Tentunya bukan saya seorang…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 1.5K×

Oleh: Kahfi Rafsanjani

Alhamdullilah, sudah enam bulan saya berada di Negeri Paman Sam dalam rangka pertukaran pelajar selama setahun ke depan. Tentunya bukan saya seorang diri yang mewakili Aceh tahun ini, tetapi ada tujuh siswa yang dengan bangganya bisa mewakili Aceh tercinta.

Saya mendapat placement di Winona, negara bagian Minnesota. Saya bersekolah di Winona Senior High School. Sekolah yang begitu besar dan luas. Bahkan, area parkir saja setengah luas sekolah. Di belakang sekolah saya terdapat dua lapangan sepak bola, sedangkan di sampingnya ada lapangan Baseball. Sekolah dengan julukan Winhawks ini adalah sekolah negeri memiliki sekitar 1200 siswa. Lumayan banyak dibandingkan sekolah saya di Aceh, Sukma Bangsa Pidie.

Mencelupkan diri ke dalam budaya-budaya baru tentu saja menjadi sebuah tantangan tersendiri, dalam hal bergaul dan berteman misalnya. Alhamdullilah, saya bisa membangun pertemanan di sini dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler seperti sepak bola, dan juga bermodalkan budaya ramah orang Indonesia, yang membuat mereka ingin berkenalan dengan saya. Pertemanan di sini juga sangat fleksibel, tidak membedakan junior dan senior. Semua murid SMA berbaur satu sama lain.

Waktu itu, saya pulang dari latihan sepak bola. Saya meminta tumpangan kepada salah satu teman saya yang bernama Drew. Dengan senang hati dia memberi saya tumpangan. Kami berbincang banyak hal tentang kehidupan remaja di Amerika dan Indonesia. Kami saling berbagi cerita. Kemudian saya bertanya tentang apa yang remaja Amerika lakukan di hari libur.

Di Amerika, sekolah hanya berlangsung lima hari dalam seminggu. Hari Sabtu dan Minggu libur, mereka biasa menyebutnya Weekend. Selain untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga, hari libur juga dimanfaatkan untuk bekerja oleh remaja-remaja di sini. Pekerjaan yang dilakukan remaja sekolah di sini cukup beragam. Mulai dari menjadi penjaga kasir di restoran, bekerja di pertanian orang lain, sampai baby sitting.

Mereka memilih pekerjaan yang cocok dan sesuai. Umumnya mereka bekerja di super market dengan menjadi kasir, membantu pembeli untuk menemukan barang yang mereka cari dan merapikan barang-barang di rak.

Untuk mendapatkan pekerjaan, mereka harus berusia 16 tahun ke atas. Hal yang terlebih dahulu mereka harus lakukan adalah mendaftar dan mengisi formulir, biasanya secara online. Setelah proses pendaftaran dan pengisian formulir selesai, mereka harus melakukan tahap wawancara. Dalam sesi ini yang akan ditanyakan adalah perihal kenapa mau bekerja, posisi apa yang cocok, dan terkadang mereka juga akan diberi sebuah contoh situasi yang akan dihadapi dalam perkerjaan nantinya, lalu mereka harus memberi pendapat terhadap kondisi tersebut. Setelah melewati proses tersebut, hanya menuggu 2-3 hari lalu mereka akan dihubungi untuk pemberitahuan diterima atau tidak.

Uang yang mereka hasilkan dari bekerja part-time ini terbilang cukup menarik, yaitu 8-10 Dollar US per jamnya. Mereka biasanya bekerja 4-7 jam per hari, dan seminggu mereka hanya bekerja dua hari. Jadi, mereka mendapatkan kira-kira $100 Dollar US per minggu. Biasanya mereka akan dibayar setelah 24 jam bekerja. Tentunya itu adalah uang yang cukup banyak, ya. Coba kalau kita rupiahkan, kira-kira sekitar 1 juta rupiah setiap minggunya. Di Amerika jumlah kemiskinannya sangat sedikit. Jadi, rata-rata semua keluarga berasal dari kelas menengah.

Sebelumnya, saya berpikir mereka bekerja untuk membantu beban keluarga. Ternyata tidak, mereka bekerja untuk diri sendiri dan untuk mendapat pengalaman bagaimana kehidupan bekerja nantinya yang akan mereka hadapi.

Alasan remaja-remaja Amerika bekerja sangat beragam. Ada yang bekerja dengan alasan untuk membeli sesuatu yang “lebih”. Contohnya, untuk membeli pakaian. Tentu saja semua itu sudah dibeli oleh orang tua, tapi terkadang mereka ingin punya lebih maka mereka harus membelinya sendiri.

Alasan lainnya adalah untuk memanfaatkan waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat, yaitu dengan bekerja. Menabung juga menjadi alasan mereka, ada beberapa dari teman-teman saya yang bekerja untuk menabung. Mereka bahkan belum tahu mau diapakan uang tersebut nantinya. Mereka hanya menabung dan menggunakannya di masa akan datang.

Sebagai remaja-remaja Aceh, kita bisa memulainya dari membantu orang tua kalau memang orang tuanya memiliki usaha. Bisa juga membantu sanak saudara lainnya yang berprofesi sebagai pengusaha. Jangan harapkan uang sebagai alasan utama, tapi harapkanlah pengalaman.

Kendala bagi remaja-remaja kita di Aceh tercinta ini saya rasa adalah keterbatasan hari libur, yaitu cuma hari minggu. Namun, semua itu kembali kepada pribadi masing-masing dalam me-manage waktu.

Ya, itulah budaya bekerja remaja Amerika. Saya rasa budaya ini sangat patut dicontoh. Setidaknya, kita memiliki pengalaman dalam merasakan dunia kerja. Lebih dari itu, kita bisa menumbuhkan kedisiplinan dan etos kerja yang tinggi.

Mengikuti Pertukaran Pelajar Bina Antarbudaya ke Amerika Serikat membuat saya melihat sesuatu hal dari banyak sudut pandang. Banyak pengalaman yang sudah saya dapatkan selama disini. Pendaftaran Seleksi Pertukaran Pelajar Bina Antarbudaya tahun 2017 ini akan segera di buka pada bulan Maret nanti. Bagi pelajar kelas X SMA/sederajat yang ingin mengikuti dapat mencari informasi di binabudaceh.blogspot.com atau bina-antarbudaya.or.id []

* Kahfi Rafsanjani, siswa SMA Sukma Bangsa Pidie sedang mengikuti Pertukaran Pelajar YES Bina Antarbudaya, melapor dari Minnesota, Amerika Serikat. Email: rafsanjanipii@gmail.com

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar