MANILA – Sepak terjang pemimpin kelompok Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, yang bergabung dengan militan Maute mengaku tunduk pada Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) lantas menyerang Kota Marawi di Kepulauan Mindanao, selatan Filipina, membikin Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, berang. Namun, dia justru meminta bantuan kepada para pejuang Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) buat memerangi kelompok itu.
Duterte bahkan menjanjikan jika MNLF dan MILF bersedia membantu, maka anggota mereka akan dibayar sama seperti prajurit Filipina.
“Saya umumkan kepada para pejuang MILF, MNLF, jika pertempuran ini dirasa terlalu lama dan kalian ingin bergabung dengan pihak Republik, maka silakan. Saya akan menjadikan kamu tentara dengan bayaran dan hak sama, dan saya akan bangun rumah buat kalian di beberapa wilayah,” kata Duterte seperti dilansir dari laman Rappler, Senin (29/5),
Pemimpin Front Pembebasan Nasional Moro, Nur Misuari, lantas menawarkan bantuan kepada Duterte buat memerangi kelompok itu. Duterte mengatakan menerima bantuan dari Nur Misuari. Dia bahkan membacakan surat dikirim Nur Misuari di hadapan para prajuritnya ketika dia berkunjung ke Pulau Jolo, Provinsi Sulu.
“Nur Misuari mengirimkan surat kepada saya. Dia bilang, 'prajurit saya, silakan ambil. Ambil prajurit saya di MNLF',” ujar Duterte.
Menurut Duterte, dalam surat itu Misuari menyatakan penyerang Kota Marawi hanya sekumpulan penjahat dan bukan lagi mujahid. Bahkan, sebagian malah menjadi bandar narkoba. Dia juga sudah menyiapkan sekitar 500 hingga 700 pejuang di markas besar MNLF di Lanao Jabal Nur, di Ganassi dan Maguing. Namun, Misuari juga meminta Duterte menepati janji. Yakni dengan menjadikan prajurit terbaiknya bisa diberikan posisi terbaik di dalam lembaga ketentaraan Filipina.