TERKINI
NASIONAL

Bayi Malang Dibuang di Ujung Malam

Sepesang insan berlainan jenis terlibat cekcok di pinggir jalan di malam buta. Mereka membuang bayi di pinggir jalan.

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 933×

Fajar baru saja merekah, Senin, 15 Juni 2020, usai shalat subuh, Muhammad bergegas ke rumah Abdullah. Pria berusia 30 tahun itu ingin membantu sang jiran. Pasalnya, ada hajatan lamaran yang akan digelar di rumah yang berada di desa Paya Deman Sa, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur tersebut.

Ketika masuk ke perkarangan rumah itu pria yang sering disapa Amat Sare itu tidak melihat hal yang janggal. Ia terus masuk untuk memarut kelapa. Belakangan ia mendengar ada tangisan bayi di luar pagar.

Karena penasaran, Amat Sare keluar lagi ke jalan, mencari asal suara tangisan. Dan Amat Sare kaget bukan kepalang, ia  melihat bayi mungil berbalut kain motif batik tergeletak di atas bangku kayu. Setelah menemukan bayi itu, Amat Sare memberitahu Fatimah untuk diselamatkan. Mereka kemudian melaporkan penemuan bayi malang tersebut kepada kepala desa, yang kemudian membuat laporan ke Polsek Pante Bidari.

Kapolsek Pantee Bidari Iptu Iskandar Wijaya, Senin, 15 Juni 2020 mengungkapkan, saat pertama Amat Sare ke rumah itu, ia tidak melihat ada bayi di sana, karena bayi tersebut tidak menangis, tetapi ketia Amat Sare hendak bekerja memarut kepada, suara tangisan bayi itu terdengar. “Kami kemudian datang ke sana dan membawa bayi itu ke Puskesmas Matang Peudueng untuk pemeriksaan kesehatan,” ungkap Iskandar Wijaya.

Iskandar Wijaya menambahkan, kemungkinan bayi itu sudah diletakkan di sana sebelum subuh, karena Fatmawati, warga Dusun Timur, Gampong Paya Deumam Sa pertama kali mendengar suara tangisan bayi itu sekitar pukul 03.30 WIB. Tapi perempuan berusia 38 tahun itu tidak berani keluar untuk melihatnya.

Sebelum mendengat tangisan bayi itu, Fatmawati mendengar suara keributan antara seorang pria dengan seorang perempuan di pinggir jalan desa tersebut. Kemudian terdengar suara mobil berjalan menuju arah timur, setelah itu baru terdengar tangisan bayi. “Fatmawati tidak berani keluar, karena takut itu jebakan atau modus perampokan,” jelas Iskandar Wijaya.[**]

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar