Oleh : Putri Balqis Minerty
Apa itu marah? Ketika mendengar kata marah langsung tergambarkan dalam pikiran kita bahwa marah adalah suatu hal yang negatif. Suatu hal yang sering kali kita temui di sekitar kita, ketika seseorang berbicara keras, kasar, tubuhnya bergetar bahkan tidak jarang diikuti dengan reaksi agitasi merusak benda-benda, menganiaya orang lain bahkan menyakiti dirinya sendiri (itulah yang tergambar di benak setiap orang ketika mendengar kata marah). Setiap orang pernah merasa marah karena reaksi marah adalah realita ekspresi emosi yang bisa dialami setiap orang, kapanpun dan di manapun.
Hakikatnya marah adalah reaksi psikologis berupa anxietas atau kecemasan atas ancaman suatu kebutuhan. Marah walaupun sebagai reaksi psikologis namun disertai oleh reaksi fisik yang ditandai meningkatnya tekanan darah, denyut nadi dan pernafasan. Hal yang muncul di lingkungan kita saat ini adalah setiap orang menyepakati dan berasumsi bahwa marah adalah hal yang sangat buruk dan hal negatif serta dapat mengganggu kenyamanan bagi yang merasakannya, persepsi demikian muncul akibat banyak orang yang tidak tahu mengekspresikan marah secara tepat.
Marah dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal yaitu faktor biologis, psikologis dan perilaku sosial. Semua ini harus didefinisikan dalam konteks keluarga, sosial, dan teman sebaya. Menyalahkan orang lain merupakan salah satu indikator munculnya kemarahan.
Faktor internal yang mempengaruhi kemarahan di antaranya adalah tipe kepribadian, kurangnya keterampilan problem solving, ingatan tidak menyenangkan, efek hormon, kecemasan, depresi, permusuhan, tekanan, agitasi, problem sistem saraf. Kehadiran kondisi tidak menyenangkan dapat memperkuat rasa marah dan kemampuan untuk mengontrol diri.
Sedangkan faktor eksternal meliputi, pengasuhan orang tua yang negatif, situasi dan faktor lingkungan, efek teman sebaya dan media, status sosial ekonomi, tekanaan sosial. Beberapa emosi negatif dapat berubah menjadi kemarahan, terutama rasa tidak aman dan ketakutaan.