WASHINGTON – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson mendesak kepala militer Myanmar untuk membantu mengakhiri kekerasan di Negara Bagian Rakhine yang telah memaksa ratusan ribu muslim Rohingya mengungsi.
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Heather Nauert, desakan itu disampaikan Tillerson dalam pembicaraan telepon dengan Panglima Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing. “Tillerson mengungkapkan kekhawatiran AS terhadap krisis kemanusiaan yang terus berlanjut dan melaporkan kekejaman di Rakhine,” papar Hauert dalam pernyataannya, kemarin.
“Tillerson mendesak pasukan keamanan Myanmar untuk mendukung pemerintah dalam mengakhiri kekerasan di Negara Bagian Rakhine dan membiarkan pulangnya pengungsi yang selamat selama krisis ini, terutama sejumlah besar etnik Rohingya,” tuturnya.
Lebih dari 600 ribu anggota kelompok minoritas muslim itu telah melarikan diri melintasi perbatasan ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan yang dilakukan militer dan umat Buddha Myanmar. Krisis yang dimulai sejak akhir Agustus lalu kini kian memburuk. Ini merupakan eksodus terbesar di Asia sejak berakhirnya Perang Vietnam.
Krisis itu dipicu dengan serangan kelompok bersenjata terhadap pasukan keamanan Myanmar di Rakhine. Sejak itu militer Myanmar melakukan operasi pembersihan untuk menumpas kelompok tersebut, yang disebut orang-orang Myanmar sebagai imigran Bengali ilegal.