Puisi-puisi Karya: Taufik Sentana* Indonesia Kini Jalan tol dan Ibu kota baru. Pandemi yang belum berlalu. Acaman pengangguran dan defisit anggaran. Pendidikan yang menjadi…
Puisi-puisi Karya: Taufik Sentana*
Indonesia Kini
Jalan tol
dan Ibu kota baru.
Pandemi
yang belum berlalu.
Acaman pengangguran
dan defisit anggaran.
Pendidikan
yang menjadi industri
dan doa doa orang kelaparan
diantara simpang siur kepentingan:
Diiringi jeda
bendera partai yang dibakar
seakan ia keramat
yang memicu laknat.
Bendera Kita
Adalah keadilan yang berkibar
dari celah lorong sempit
ke gedung gedung yang angkuh.
Sedang di tepi sungai
orang orang menjala ikan
dengan damai.
Doa Anak Negeri
Setelah bumi yang molek
Beri kami pemimpin
yang bukan pesolek,
yang akalnya menjangkau
harapan kami.
Agar kami dapat menikmati
setiap jengkal tanah ini
tanpa risau akan
yang dipanen cucu kami.
Anak anak yang Diyatimkan
Bukan semata
yang lepas dari dekap ayahnya.
Tapi yang tak dapat
kita jangkau (dan kita abaikan )
dalam perkembangannya.
Hingga tumbuh di jalanan
dan membesar di dalam
permainan game
atau hanya menjadi manja.
Di sebelahnya, iklan iklan industri
membayangi citra
dan dahaga mereka
tentang sukses dan bahagia.[]
*Penikmat sastra sufistik.