TERKINI
GAYA

Alkaf: Perlu Membaca Kembali Peran Amir Husin Al-Mujahid Secara Jernih dan Arif

BANDA ACEH -- Pengurus Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy sekaligus dosen IAIN Langsa M. Alkaf mengatakan, lahirnya MoU Helsinki secara tidak langsung telah 'menutupi' sejarah Aceh…

portalsatu.com Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 1.9K×

BANDA ACEH — Pengurus Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy sekaligus dosen IAIN Langsa M. Alkaf mengatakan, lahirnya MoU Helsinki secara tidak langsung telah 'menutupi' sejarah Aceh di masa-masa sebelumnya. Padahal kata dia proses politik menuju perdamaian Aceh telah dimulai sejak tahun 2000-an.

“Tapi karena proses dan histeria MoU Helsinki begitu kuat maka perjuangan masyarakat sipil dan politik tidak lagi dibuka secara sehat. Ini berimbas pada tenggelamnya proses sejarah lainnya sejak periode 45 dan seterusnya,” kata M. Alkaf dalam peluncuran dan bedah buku “Jenderal Mayor Amir Husin Al-Mujahid – Aku Tetap Konsisten Terhadap Pesan Khusus Sultan Aceh Terakhir-” di Ruang Senat Rektor Unsyiah, Senin, 2 Oktober 2017.

Aceh kata Alkaf, harus dilihat secara utuh melalui empat periode penting. Dimulai sejak periode pertama pada tahun 45 yang dikenal sebagai tahun revolusi, selanjutnya periode tahun 62 yang menjadi fase terakhir proses perdamaian Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII), tahun 76 saat muncul pergolakan Gerakan Aceh Merdeka, dan tahun 2005 pasca-MoU Helsinki.

Dari empat periode ini, Amir Husin Al-Mujahid yang berasal dari Idi Rayek, Aceh Timur menjadi bagian dari pergerakan DI/TII yang erat kaitannya dengan Daud Beureueh selaku ketua DI/TII pada masa itu.

“Amir Husin selalu disangkakan sebagai orang paling bertanggung jawab sebagai orang yang 'menyelesaikan' kaum feodal di Aceh. Dia juga dianggap sebagai pembelot dari DI/TII. Problemnya adalah kita melihat proses revolusi sosial ketika itu dalam konteks hari ini,” kata Alkaf.

Baca: Padebooks Luncurkan Buku tentang Jenderal Mayor Amir Husin Al-Mujahid

Padahal kata Alkaf, Revolusi Sosial yang dimotori Amir Husin berujung pada lahirnya Aceh yang demokratis, egaliter, dan sesuai dengan kehendak sejarah yang ketika itu semua dunia menginginkan adanya persamaan hak dan persamaan derajat. Karena itu menurut Alkaf, perlu membaca kembali peran-peran Amir Husin Al-Mujahid secara jernih dan arif.

“Jadi ini bukan dalam konteks hitam putih, tapi terjadi dalam situasi yang seimbang. Husin Mujahid mendapat sangkaan yang tidak adil. Ini adalah momentum kita untuk membicarakan secara adil tentang masa lalu, sehingga tidak menjadi bibit konflik.

Penampilan Amir Husin Al-Mujahid yang sangat mengagumi sosok Napoleon Bonaparte 

Sementara itu, Dekan FTIK IAIN Langsa DR. Ahmad Fauzi, M. Ag selaku penulis dalam buku”Jenderal Mayor Amir Husin Al-Mujahid – Aku Tetap Konsisten Terhadap Pesan Khusus Sultan Aceh Terakhir-” menceritakan, Amir Husin Al-Mujahid merupakan sosok istimewa yang memiliki akumulasi dari pengalaman pendidikan, dan pergaulan dengan tokoh nasionalisme Indonesia di Aceh. Ditambah dengan nasehat khusus Sultan Aceh terakhir menjadikannya sebagai inovator dalam lima bidang di antaranya:

Pertama, bidang pendidikan dengan mendirikan sejumlah madrasah/sekolah di Aceh Timur. Kedua, menanamkan semangat nasionalisme Indonesia kepada pemuda Aceh melalui Pemuda Persatuan Ulama Seluruh Aceh dalam kurun waktu tahun 40-45.

Ketiga, mengembalikan kedaulatan Aceh dari loyalitas kepada raja menjadi loyalitas kepada rakyat secara penuh melalui pembersihan keturunan vorst dan raja-raja kecil yang sempat menggadaikan teritorial Aceh kapda Belanda secara paksa melalui de Karte Verklaring.

Soal ini Ahmad Fauzi menuliskan; pembersihan dimaksud yang digerakkan oleh Volk Leger dengan nama Tentara Perjuangan Rakyat tentu diarahkan kepada mantan Zelbestuurder yang pernah menzalimi rakyatnya dan dianggap dalam kelompok makar dan ambigius terhadap Negara Republik Indonesia.

Keempat, Amir Husin memberi inspirasi kepada Panglima/Menteri Perang DI/TII, Kolonel Hasan Saleh untuk merebut kekuasaan atas nama Dewan Revolusi terhadap pimpinan gerakan DI/TII di Aceh pada 1959. Kelima, menolak tawaran Muhammad Daud Beureueh tahun 1974 untuk mendukung reinkarnasi Republik Islam Aceh yang akan dipimpin oleh Muhammad Hasan Tiro.

Pengalaman pahit semasa DI/TII menjadi alasan kuatnya untuk menolak hal tersebut. Kala itu ia memerintahkan semua bekas bawahannya untuk tidak terpancing dengan upaya reinkarnasi tersebut. Hal inilah yang membuat Amir Husin dicaci oleh barisan nasionalisme Aceh, sekaligus dipuji oleh barisan yang berada dalam gerakan nasionalisme Indonesia.

Selain Muhammad Alkaf, bedah buku ini juga menghadirkan dua narasumber lainnya yaitu mantan gubernur Aceh Abdullah Puteh yang breasal dari Idi Rayek, dan budayawan Aceh Barlian AW. Penerbit Padeebooks selaku pihak penerbit yang menerbitkan buku ini juga menghadirkan Rektor Unsyiah Prof. Syamsul Rizal sebagai keynote speaker, yang juga berasal dari Idi Rayek.

Bedah buku ini dihadiri lebih dari seratus peserta dari berbagai unsur, termasuk dihadiri langsung anak kandung almarhum Jenderal Mayor Amir Husin Al-Mujahid, keturunan Sultan Aceh, akademisi, mahasiswa, dan lainnya.[]

portalsatu.com
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar