TERKINI
PROFIL

Ahok, Al Maidah, dan Solidaritas Keislaman

Oleh : Munzami Hs AHOK, sosok fenomenal sekaligus kontroversial ini belakangan hampir setiap hari mengisi headline pemberitaan mayoritas media-media di Indonesia bahkan mancanegara. Sosok yang…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 5 menit
SUDAH DIBACA 699×

Oleh : Munzami Hs

AHOK, sosok fenomenal sekaligus kontroversial ini belakangan hampir setiap hari mengisi headline pemberitaan mayoritas media-media di Indonesia bahkan mancanegara. Sosok yang bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama fenomenal karena merupakan warga Indonesia etnis Tionghoa yang menjadi Gubernur DKI, sentral pemerintahan Indonesia. Namun, Ahok juga merupakan sosok kontroversial karena mampu membuat masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim ikut bersuara dan merasa “gerah” atas ucapan yang dilontarkan terkait Surat Al Maidah ayat 51.

Terlepas dari latar belakang etnis, suku, dan agama, semua warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban sama yang diatur dalam UUD 1945. Termasuk menjadi pejabat publik di wilayah hukum Indonesia. Rakyat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, adat istiadat, dan beragam etnis telah mencerminkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang paling demokratis di dunia.

Rakyat Indonesia barangkali tidak terlalu mempersoalkan perbedaan latar belakang terhadap siapa saja yang ingin menjadi Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota hingga Kepala Desa di seluruh wilayah di Indonesia. Saling menghormati dan menghargai merupakan identitas dan ciri khas dari kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.

Namun, ucapan kontroversial dari seorang Ahok yang menyinggung atau bahkan dianggap “melecehkan” kitab suci umat Islam telah menimbulkan beragam amarah dan reaksi umat Islam di Indonesia. Puncaknya terjadi pada aksi demonstrasi ratusan ribu umat Islam yang membanjiri ibukota tanggal 4 November 2016. Aksi yang dikenal dengan sebutan “Aksi Bela Islam – 411” tersebut membuat panik seluruh elemen pemerintahan di Indonesia.

Tak terkecuali, Presiden Jokowi pun ikut terlihat panik terhadap aksi umat Islam tersebut. Hal ini tergambarkan dari kunjungan Presiden ke berbagai unsur Ormas Islam, tokoh elite politik hingga institusi negara seperti TNI dan Polri untuk memastikan stabilitas keamanan negara terkait massif-nya aksi 4 November lalu.

Sebagai umat Islam, dalam tulisan ini, penulis ingin mencoba menafsirkan hikmah di balik ucapan Ahok terkait Al Maidah ayat 51 terhadap perkembangan keislaman masyarakat Indonesia pascaaksi 4 November lalu. Sebagai umat Islam, ada beberapa catatan penting yang dapat kita petik pascaaksi tersebut.

Pertama, kembali bersatunya umat Islam Indonesia. Pascaaksi 4 November lalu, hikmah terbesar yang kita rasakan adalah hari ini umat Islam Indonesia terasa kembali bersatu. Umat Islam larut dalam suasana solidaritas keislaman seakan ingin menunjukkan kepada seluruh masyarakat dunia bahwa Alquran adalah kitab suci, pedoman hidup yang tidak bisa dilecehkan oleh siapa pun. “Kekuatan” Al Maidah ayat 51 telah menyadarkan umat Islam di Indonesia bahwa melecehkan Al Maidah ayat 51 sama halnya dengan menistakan keyakinan umat Islam.

Kedua, kembali ke Qur’an (Alquran). Umat Islam harus benar-benar menempatkan kitab suci sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita jangan hanya heroik dengan satu ayat saja. Ada 6.235 ayat lagi (selain Al Maidah ayat 51) yang harus kita pedomani dan aplikasikan dalam seluruh aspek kehidupan sebagai Muslim. Ayat demi ayat yang terkandung dalam Alquran seharusnya juga mampu menjadi pedoman hidup setiap insan dalam berbagai sendi kehidupan umat.

Ketiga, semangat untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sumber ekonomi, dan media. Seperti kita ketahui, dahsyatnya aksi 4 November lalu, tentu tidak se-dahsyat pemberitaan oleh berbagai media mainstream nasional. Banyak media-media besar di Indonesia terkesan meredam publikasi terkait aksi damai umat Islam tersebut. Kekuatan media di era digital sangat sentral dalam melakukan berbagai publikasi, media saat ini bukan hanya sebatas tontonan, tetapi sudah menjadi “tuntunan” bagi masyarakat dalam menerima berbagai informasi. Sudah saatnya umat Islam memiliki media seperti layaknya umat Yahudi yang hari ini hampir menguasai seluruh media-media besar di dunia.

Keempat, semangat Aksi Bela Islam 4 November lalu harus menjadi awal kebangkitan umat Islam untuk menebarkan kebajikan dan syiar Islam sebagai agama Rahmatan Lil’alamin. Umat Islam Indonesia harus menunjukkan kepada masyarakat dunia kalau Islam tidak mengajarkan anarkisme atau radikalisme apalagi terorisme. Kita harus menunjukkan bahwa Islam adalah agama damai serta sama sekali tidak menunjukkan kebencian terhadap penganut agama lain, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al Kafirun, ayat 6: “Lakum diinukum waliya diini (untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.

Kelima, umat Islam harus mampu mendominasi kekuatan politik, ekonomi serta birokrasi pemerintahan. Tiga aspek tersebut merupakan faktor penting untuk membumikan syiar Islam. Umat Islam harus mampu melahirkan politisi-politisi yang amanah dan pro-rakyat, bukan politisi yang menjadikan Islam sebagai modus untuk merebut kekuasaan. Umat Islam harus mampu melahirkan konglomerat-konglomerat hebat di berbagai sektor ekonomi, termasuk konglomerasi media. Selanjutnya, umat Islam harus mampu melahirkan birokrat-birokrat yang bersifat pelayan umat, bukan birokrat yang bermental pejabat yang elitis dan borjuis. 

Akhirnya, penulis berkesimpulan bahwa aksi 4 November akibat ucapan Ahok yang diduga menistakan agama merupakan momentum bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya yang beragama Islam untuk kembali benar-benar menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup, kitab suci sekaligus landasan utama terhadap berbagai tingkah laku kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sebaliknya, sifat dan sikap perilaku anarkis dan kekerasan justru akan merugikan Islam dan para pemeluknya. Nabi Muhammad SAW selalu memerintahkan kepada umatnya supaya bersifat dan bersikap lemah lembut sebagaimana dalil sabda Nabi: “Sikap hati-hati (tidak tergesa-gesa), kesederhanaan dan perilaku lembut adalah bagian dari 24 ciri kenabian. (HR. At-Tirmidzi). Sekian, semoga bermanfaat!

* Penulis adalah Alumnus Ponpes Dayah Jeumala Amal – Pidie Jaya (1999-2002). Email: munzami.hs@gmail.com     

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar