TERKINI
OASE

Abon Aziz Samalanga: Sang Tokoh Pencetak Kader Ulama (I)

Dayah dalam lintasan sejarah merupakan sebagai lembaga pendidikan dan benteng pertahanan dalam melawan penjajah pada masa dulunya. Kini dayah juga benteng terakhir dalam melawan “penjajah”…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1.3K×

Dayah dalam lintasan sejarah merupakan sebagai lembaga pendidikan dan benteng pertahanan dalam melawan penjajah pada masa dulunya. Kini dayah juga benteng terakhir dalam melawan “penjajah” yang bernama kebodohan dan kesesatan serta tempat memperbaiki akhlakul karimah. Lembaga pendidikan tersebut di Aceh kini berkembang pesat. Salah satu di antara dayah terbesar di Aceh mungkin juga di Sumatera bernama Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga yang dijuluki sebagai “Kota Santri”.

Lembaga pendidikan tersebut berada di Gampong Mideun Jok, Kemukiman Mesjid Raya, Kecamatan Samalanga, Bireuen. Ketika lembaran sejarah kita buka, tidak ada penjelasan yang tertulis dan detil tentang asal usul lahirnya dayah tersebut. Namun sebagian ahli sejarah menyebutkan, dayah ini telah berdiri seiring dengan pembangunan Mesjid Raya yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda.

Dahulu sekitar abad ke-16, Sultan Iskandar Muda (Raja Aceh ke-12, memerintah tahun 1607-1636 M) dalam perjalanan ke daerah tersebut mendirikan sebuah masjid, masyarakat di sana menamakannya dengan sebutan “Mesjid Raya” yang berfungsi sebagai tempat ibadah dan tempat pengajian keagamaan bagi masyarakat setempat.

Dalam perjalanan, Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga sudah dipimpin oleh beberapa ulama besar. Salah satu di antaranya Teungku H. Abdul Aziz Bin Shaleh yang akrab disapa Abon Aziz Samalanga. Keberkahan dan kepandaian Abon Aziz dalam mendidik dan melahirkan ulama besar seperti (almarhum) Abu Panton, Abu Kuta Krueng, Abu MUDI, Abon Seulimum, Abu Lueng Angen, Abu Langkawe dan masih banyak lainnya, tentu saja salah satu bukti karamah dan kemulian al-Mukarram Abon Aziz.

Penabalan Al-Aziziyah setiap dayah yang pernah menimba ilmu di dayah itu merupakan berasal dari nama Al-MukarramAbon Aziz. Keberadayaan dayah di Aceh yang lahir dari rahim MUDI baik dengan penabalan nama akhir “Al-Aziziyah” maupun tidak, telah mewarnai dunia pendidikan Aceh lebih berdenyut bersama dayah lainnya dalam menegakkan panji agama di nanggroe indatu ini.

Bahkan, dayah kini tidak lagi dipandang sebelah mata walaupun pemerintah masih “menganaktirikan” dunia pendidikan dayah ketimbang nondayah. Itu bukan wilayah otoritas penulis untuk membahasnya di ruang ini. Namun, “tanyakan pada rumput yang bergoyang. Pasti ada jawabannya.

Sosok Abon Aziz menjadi kunci utama dalam melahirkan para ulama di Aceh, bahkan luar Aceh yang beliau rintis di dayah bernama MUDI Mesjid Raya Samalanga itu. Namun  dalam paradigm Abon, dayah bukan hanya ulama yang harus lahir di tempat itu, tetapi tokoh pendidikan dan nonpendidikan juga telah lahir di “surga dunia” yang kini menjadi mercusuar nan megah menerangi umat dalam integrasi ilmu. Lantas bagaimana dan siapa sosok serta kiprah Abon dalam hal ini?[] (Bersambung)

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar