TERKINI
PROFIL

Film itu Media Dakwah Terbaik

Sebelum ada stasiun televisi yang siarannya sampai ke Aceh, panutan utama orang-orang adalah para teungku di balai pengajian (balee beuet), meulasah (meunasah), dan dayah-dayah. Sementara…

LIPUTAN6 Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 864×

Sebelum ada stasiun televisi yang siarannya sampai ke Aceh, panutan utama orang-orang adalah para teungku di balai pengajian (balee beuet), meulasah (meunasah), dan dayah-dayah. Sementara adat dan reusam ada pada geuchik, imum mukim, raja, dan sultan.

Saat itu, orang-orang tidak mengenal Tahun Baru, Natal, Imlek, Ulang Tahun, Valentine, sepak bola, pacaran, dan sebagainya. Orang-orang di masa itu menjaga anaknya dan anak orang lain untuk mengikupi pendidikan, terutama belajar agama di balai-balai dan meunasah.

Kalau ada anak yang libur sekolah atau pengajian, ia berusaha keras untuk menghindari orang dewasa, siapa saja, sebab orang itu akan menasehatinya, dan yang paling menakutkan, dilaporkan pada orang tua mereka bahwa mereka tidak belajar.

Lalu, kapan budaya itu dan yang serupa dengannya tergeser? Anda benar. Sejak siaran televisi masuk ke Aceh. Sejak film-film dari budaya yang berbeda masuk ke rumah orang-orang Muslim di Aceh melalui monitor televisi. Setelah itu ditambah masuk ke saku dan tas setiap orang melalui telepon genggam.

Apakah televisi atau teknologi video visual dan internet yang salah? Anda salah. Bukan.

Teknologi, sama dengan benda lainnya seperi kain, ianya bersifat netral berhukum mubah. Tidak ada nilai moral di dalamnya, benda mati. Namun itu bisa menjadi penghantar pengetahuan yang baik atau merusak, bisa menjadi penghantar moral baik atau buruk.

Maka, Apa yang Harus Kita Lakukan

Pertanyaan cemerlang. Apa yang harus kita lakukan? Yang harus kita lakukan adalah belajar menguasai, mengembangkan, dan atau menciptakan teknologi tersebut. Yang lebih penting lagi menggunakannya untuk kepentingan ideologi kita, Aceh.

Sebagai contoh, para pemuka agama dan pembela moral melarang permainan judi, perzinahan (pergaulan bebas?), dan sebagainya. Tetapi larangan itu tumpul, sebab disampaikan hanya dalam beberapa menit atau jam, sekali dalam sepekan atau sebulan. Sementara perintah –tidak langsung dan tersembunyi- untuk melakukannya disampaikan setiap menit melalui siaran televisi dan internet dan media lainya.

Apa yang harus kita lakukan? Buatlah siaran televisi yang isinya sesuai dengan ideologi Aceh. Kalau tidak mampu, maka buatlah film-film yang sesuai dengannya, lalu sebarkan se setiap rumah-rumah penduduk. Selesai masalah itu.

Teungku, kita tidak bisa menunggu lagi, apalagi mengabaikannya. Walaupun sekarang sudah terlambat untuk memperbaiki yang telah dirusak pada generasi kita, namun masih ada peluang untuknya.

Kalau tidak, maka generasi di Aceh ke depan bukan lagi milik kita, tetapi milik orang India (Bollywood), Amerika (Hollywood), Korea, dan Cina (Hongkong) yang film-film mereka paling banyak ditonton generasi kita melalui televisi dan internet. Sekian dulu Teungku, lain kali kita lanjutkan bincang-bincang ini.[]

*Thayeb Loh Angen, Penulis Novel Aceh 2025, Sutradara Film ‘Di Kaki Kota Jantho”

LIPUTAN6
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar