Oleh Muhajir Ibnu Marzuki
Di atas gundukan tanah yang terletak pinggir jalanan Gampong Punge Blang Cut, Banda Aceh, pagi dengan sinar mentari yang begitu cerah. Belasan orang yang umumnya para pemuda sedang sibuk menebas dan membersihkan semak belukar yang menutupi hampir seluruh bagian nisan tua yang terdapat di area tersebut.
Semak belukar yang begitu lebat dan menjadi tempat bagi semut bersarang tidak menyurutkan semangat mereka untuk berpeluh di pagi menjelang siang itu. Dengan peralatan seadanya, mereka dengan penuh semangat menebas semak belukar hingga terlihat beberapa nisan tua yang berpahat indah seni kaligrafi dan ornamennya.
Kondisi nisan-nisan itu umumnya sudah berantakan dan tidak lagi berada pada posisi semula. Jikapun ada yang berada pada posisinya, itupun sudah miring.
Meuseuraya, begitulah nama mereka sebutkan untuk kegiatan membersihkan situs sejarah seperti yang sedang mereka adakan di pagi minggu ini. Penamaan meuseuraya merupakan kata yang diambil dari bahasa Aceh yang berarti gotong-royong.
Hingga saat ini, meuseuraya menjadi agenda rutin tiap pagi Minggu bagi mereka yang bergabung dalam organisasi Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh), sebuah organisasi sejarah yang bersekretariat sementara di Gampong Bitai, Banda Aceh.
Dalam kegiatan tersebut, selain membersihkan situs sejarah, mereka juga menata kembali situs sejarah terutama nisan tua yang sudah berantakan baik karena rusak faktor alam maupun karena dihempas oleh gelombang dahsyat smong (tsunami) 2004 silam.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi program sosialisasi mereka kepada masyarakat agar ikut serta dalam menjaga dan melestarikan situs-situs sejarah yang ada sebagai bukti kejayaan Aceh dulunya dan untuk menjadi pengetahuan serta warisan bagi generasi Aceh selanjutnya.
Hari ini, Minggu, 27 Maret 2016, tepatnya satu hari setelah kenangan pahit 143 tahun maklumat perang yang dikeluarkan Belanda terhadap Kesultanan Aceh yang hingga kini maklumat tersebut belum ditarik secara resmi sebagaimana kebiasaan maklumat perang antar negara, Mapesa memilih salah satu komplek makam tua yang terletak di Gampong Punge Blang Cut sebagai tempat ber-meuseuraya.
Lokasi ini letaknya tidak jauh dari kampus Universitas Iskandar Muda (Unida) hanya kisaran 700 meter. Tepatnya 400 meter di belakang Kantor Geuchiek gampong tersebut.
Dipilihnya lokasi tersebut sebagai tempat mereka berkeringat di pagi itu, karena di antara nisan-nisan tua tersebut ada sebuah makam yang telah berhasil diungkapkan nama tokohnya.