BANDA ACEH – Polemik menjiplak karya seni terus bergulir di Aceh. Mayoritas pegiat seni sangat sepakat para musisi Aceh melahirkan karya tanpa harus menjiplak milik orang lain. Namun mereka menambahkan beberapa catatan tertentu untuk Aceh, seperti halnya Tungang Iskandar, salah satu founder di Seniman Perantauan Aceh atau SePAt.
“Naskah teater tentang Perang Aceh, The Drama of Achenese History, yang ditulis Hasan Tiro pada 1978 juga memakai komposisi musik 'ciplakan' untuk mengiringi tiap adegan di dalamnya, dan bukankah itu tidak jauh berbeda dengan cara Bergek meramu lirik dan memadukannya dengan musik?” tulis Tungang Iskandar di akun facebooknya, Senin, 21 Maret 2016.
Pernyataan Tungang Iskandar ini menyikapi adanya kritikan terkait maraknya lagu plagiat di Aceh yang digarap oleh musisi lokal. Dia turut mempertanyakan apakah dengan mengikuti selera global, lalu menyelipkan lirik lokal lantas disebut tidak baik atau katakanlah tidak kreatif?
“Lalu jika mereka yang masih muda mulai yakin bahwa seni itu bisa menghidupi kebutuhan keluarga, apakah lebih baik mereka miskin dan bau, seperti halnya seniman yang sok orisinil karyanya di luar sana? Baiknya kita bertanya, tentang sejauh mana telah bergerak mengapresiasi karya seni atau seniman, sehingga nantinya seni dan seniman tidak lagi dipandang jelek dan menjijikkan,” tulisnya lagi.