ADA fenomena yang berkembang di dunia maya. Pasangan yang hendak menikah, memilih sesi foto pre-wedding di tempat-tempat ekstrem. Mereka memamerkan kemesraan di tengah ancaman bahaya. Perlukah diikuti?
Seringkali foto prewedding digelar di studio. Pasangan pengantin hanya perlu datang ke tempat foto, lalu dijepret dengan pose sesuai arahan fotografer. Hasilnya kemudian diolah sedemikian rupa sesuai dengan keinginan pengantin.
Nah, selain di studio, prewedding juga kerap digelar di alam terbuka. Ada yang mengambil tema hijau dengan latar belakang persawahan, pepohonan, pantai dan gunung. Ada juga yang mengambil tema perkotaan dengan latar perkampungan, jembatan, gedung tua dan lainnya.
Belakangan, muncul fenomena pre-wedding di tempat yang cukup ekstrem. Ada yang nekat mengambil gambar di tebing yang curam, air terjun yang licin, aliran sungai deras, dan lokasi ekstrem lainnya. Semua punya potensi bahaya, namun tetap dipilih karena istimewa.
Seperti yang dilakukan fotografer Jay Philbrick (62). Dia pernah membuat sesi foto pre-wedding di tebing yang curam. Dia mengambil gambar di sisi tebing dengan ketinggian 350 kaki.
“Tebingnya terletak 30 kaki dari atas dan 350 kaki dari dasar lembah,” kata Jay seperti dilansir media Inggris, Mirror.
“Kami menurunkan pasangan pengantin ke tebing menggunakan satu tali dan mereka terikat satu sama lain. Sistemnya sangat aman,” tambahnya.
Menurut Jay, banyak pasangan pengantin yang mencari suasana prewedding baru. Sehingga akhirnya dia terpikir untuk membuat foto prewedding di tebing. Berbekal pengalamannya sebagai pemandu gunung, Jay pun terinspirasi membuat foto-foto berbahaya.
“Melakukan foto (ekstrem) ini menyenangkan tapi punya tantangan tersendiri,” ucapnya.