JAKARTA – Akhlakul karimah menjadi pilar utama dalam pendidikan. Hal itu pula yang menjadi keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam mendidik sahabat-sahabatnya. Dalam Alquran surah al-Qalam [68] ayat 4 serta dalam hadis riwayat Muslim dan Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah SAW berkepribadian Alquran (Kaana Khuluquhu Alquran).
Kalangan non-Muslim pun mengakui keluhuran akhlak Nabi SAW. George Bernard Shaw, seorang filsuf Inggris berkata, “Aku telah membaca kehidupan Rasul Islam dengan baik, berkali-kali, dan berkali-kali, dan aku tidak menemukan kecuali akhlak-akhlak luhur yang semestinya, dan aku sangat berharap Islam menjadi jalan bagi dunia.”
Hal itu menegaskan bahwa Nabi SAW adalah teladan mulia dalam berbagai sisi kehidupan, termasuk dalam masalah pendidikan. Pertama, akhlak terhadap Rabbnya. Dalam urusan ibadah Nabi SAW selalu melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Ia adalah orang yang kuat ibadahnya, kuat zikirnya, tidak membiarkan waktunya berlalu tanpa manfaat, dan tidak pernah berhenti istighfar.
Nabi selalu melewati malam-malamnya dengan shalat malam, berdoa, dan bertasbih dengan khusyuk hingga terdengar dari dadanya suara seperti suara bejana yang mendidih karena menangis. Semua itu menunjukkan bukti keluhuran akhlak Nabi terhadap Rabbnya. Karena itu, yang pertama bagi seorang guru dalam menjalankan amanah sebagai pendidik adalah meningkatkan hubungan baik (akhlak) terhadap Rabbnya. Sebab, Dialah yang membolak-balikkan hati manusia (siswa).
Kedua, akhlak terhadap keluarga. Nabi SAW adalah sebaik-baik manusia, terbaik bagi keluarganya. Ia memanggil istrinya dengan panggilan paling baik (HR Bukhari). Jika di rumah, beliau terbiasa membantu keluarganya (HR Bukhari), terbiasa menjahit baju dan menambal sandalnya sendiri (HR Ahmad dan Ibnu Hibban), dan lebih pengasih kepada keluarganya (HR Muslim).