Hari Minggu, tepat pada pukul lima belas lewat empat puluh lima menit, Aku, Guruku dan rakan-rakan Kemah Sastra Hamzah Fansuri memulai perjalanan menuju Menara Suar (Mercusuar) yang berada di kampung Meulingge Pulau Aceh, dengan menggunakan tiga motor, jumlah kami hanya enam orang. Satu motor untuk dua orang, dan itupun sangat mengkhawatirkan. Bersabab pada jalan yang kadan-kadang mendaki tinggi. Bukan pendakian biasa.
Acara Kemah Sastra Hamzah Fansuri ialah perdana di Pulau Aceh, dan kampung Seurapong adalah tempat kami bermalam dan menetap untuk beberapa hari. Tanggal 20 Februari 2016 bertepatan dengan hari Sabtu, hari pertama menuju Pulo Aceh, pukul dua lewat tujuh belas menit pada siang menjelang sore hari tersebut, boat penumpang Jasa Bunda itu mulai meninggalkan Kuala Aceh menuju laut lepas.
Semua barang bawaan telah dikemas rapi dan ditutup oleh terpal, apabila hujan turun barang-barang bawaan tersebut akan tejaga dari basah yang bersabab oleh air-air hujan itu. Dan begitulah untuk setiap hari-harinya. Penumpang di dalam boat dengan leluasa bisa melihat ke arah mana sahaja yang dikehendaki, oleh sabab tiada dinding di boat tersebut.
Setelah sepekan pulang dari acara Kemah Sastra yang dimulai dari tanggal 20-23 Februari lalu masih di tahun 2016, barulah Aku menulis dan dapat menyelesaikan ceritaku ini. Walau hanya beberapa kejadian sahaja yang tertulis, namun kerana hal itulah yang membuatku ingin menulis.
Walaupun sudah sepekan berlalu, namun masih sangat merasakan sengatan lebah di Pulo itu. Adalah menuju ke Menara Suar (Mercusuar) tujuan kami pada hari Minggu menjelang sore di kala waktu. Di tengah perjalan, terasa olehku motor yang kunaiki/kukendarai bersama pria berambut panjang itu jalannya sekarang oleng.
Rupanya ia (pria yang ada di belakangku) sudah disengat lebah, tepat di kuduknya. Motor itu masih sahaja kujalankan. Dan sesaat kemudian, terasa di dadaku bagai tertusuk sembilu, Beginikah sakitnya tertusuk sembilu? Aku berguman di dalam hati sembari mencandai diriku sendiri.
Perih terasa menjalar keseluruh tubuh, kemudian dengan seketika kutepikan motor Mio Suol tersebut. Bang, sayapun ikut disengat oleh lebah itu, Aku memberitahu lelaki yang sudah duluan disengat dariku. Adalah kami (aku dan lelaki yang berambut panjang itu) satu motor berdua.
Mari ke sini dan taruhlah getah pohon Rubek ini, Katanya. dan iapun mencabut daun-daun pohon obat itu, getah yang meleleh diambil dan diolesinya pada tempat di mana ianya disengat begitu juga dengan diriku. Dan lebah-lebah itu masih mengintai kami, Keadaan belum aman ini bang, Sambil kunyalakan lagi motor itu dan menjauh dari kawanan lebah tersebut.
Ia tersenyum entah mendengar ucapanku tadi, dan di saat pergi untuk menjauh dari lebah-lebah tersebut. Aku merasakan sengatan perih itu sekali lagi terasa di dada kananku, dua kali disengat lebah untuk hari ini. Badanku terasa panas dingin (Demam).
Bang Thayeb, saya sudah disengat untuk kedua kalinya, Motorpun kupacu dengan sangat hati-hati, bersabab oleh tikungan turun/mendaki, dan masih dikejar lebah, badanpun sudah rada demam tinggi. Namun tetap harus hati-hati.
Setelah Thayeb Loh Angen memastikan bahawa keadaan sudah benar-benar aman (aman dari lebah). Untuk kali yang kedua kami berhenti dan terus menyibak baju untuk melihat bagian dadaku yang disengat lebah itu. Kami pun mengoles lagi getah pohon Rubek tersebut.