Karya: Wildan El Fadhil
Kesal
Jam menunjukkan pukul 12:00 wib, Suara riuh terdengar dari kamar Syukri yang sedang bersiap-siap untuk berangkat ke pulo Aceh, biasanya kapal akan berangkat pada pukul 14:00 wib, berbeda dengan Syukri, Reza kawan kost Syukri masih saja terlelap dalam untaian mimpi.
Za, bangun ini sudah hampir siang sebentar lagi kapal akan berangkat, teriak Syukri sembari mengetuk pintu kamar Reza yang masih tertutup rapat.
Waktu sudah berjalan selama sepuluh menit, tapi Reza belum juga memberikan tanda kalau ia sudah bangun.
Woi woi bangun, pu ka meninggai keuh nyoh? (Apa kau sudah meninggal ya? tanya Syukri
Bek kameudoa yang kon-kon, manteng udep kuh, hai (jangan berdoa yang tidak-tidak, aku masih hidup), teriak Reza dari dalam.
Dengan wajah gusar Reza membuka pintu, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia menuju kamar mandi dan setelah itu bersiap-siap menuju pelabuhan Lampulo yang berjarak sekitar 25 kilometer dari kos mereka di Ulee Kareng.
Sesampai di Lampulo, Reza terbelalak melihat kapal yang akan mereka tumpangi menuju Pulo Aceh, transportasi ke Pulo Aceh tak sehebat transportasi menuju Sabang di Pulau Weh yang sudah menggunakan kapal besar, namun untuk menuju Pulo Aceh mereka harus menumpang kapal motor milik nelayan yang sediakan untuk tranporstasi Lampulo-Pulo Aceh.
Apa tak salah kapal, kri? tanya Reza penuh keheranan.
Memang ini kapal yang menuju ke sana, tidak ada kapal lain, jawab Syukri.
Reza tersentak mendengar jawaban Syukri, niatnya untuk bersenang- senang kini buyar karena melihat transportasi yang menurutnya begitu sederhana dan tidak menjamin keselamatan.
Keraguan mulai menyelimuti hati Reza, ia bimbang antara memilih untuk pergi atau tinggal saja di Banda Aceh.
Kalau begitu, kau pergi saja sendiri, lebih baik aku tidur saja di rumah, jawab Reza dengan wajar gusar.
Jangan merajuk seperti anak kecil, sudah, kau ikut saja, nanti kaulihat saja sendiri sesampai di sana, ujar Syukri sembari menarik tangan Reza menuju kapal.
Perjalanan yang mengkhawatirkan
Awak kapal motor itu mulai mengangkat jangkar, mesin sudah dinyalakan, penumpang sudah duduk manis di lantai kapal, seekor lembu juga turut diangkut kapal itu, perkakas rumah juga tak luput, maklum hanya kapal itu satu-satunya akses menuju kesana, kapal itu mulai meninggalkan pelabuhan.
Perlahan demi perlahan pelabuhan Lampulo tidak terlihat lagi, kapal sudah berlayar di tengah lautan, ombak dan angin kencang hampir saja membuat kapal oleng. Reza tak henti-hentinya mengoceh yang membuat Syukri semakin jengkel.
Kalau tahu seperti ini, jangan kau ajak aku lagi, ujar Reza dengan penuh amarah.
Syukri hanya terdiam mendengar ucapan Reza, ia paham kalau lelaki itu baru pertama kalinya naik kapal motor dan merasa takut dengan ombak yang membuat kapal naik turun.
Perjalanan sudah hampir dua jam, jajaran pulau sudah terlihat di depan mata, namun pulau yang dituju masih jauh, air laut tampak berwarna hijau membuat pandangan terasa segar, angin sudah berhenti bergemuruh karena lajunya dihentikan oleh jajaran pulau itu.
Reza yang dari tadi hanya mengoceh akhirnya terdiam, terpukau melihat keindahan surga yang dilupakan ini, bagaimana tidak, tidak banyak wisatawan yang mengunjungi pulau ini karena tidak ada akses yang memadai.
Kapal hampir berlabuh, Reza tak memalingkan sedikit pun pandangannya melihat pemandangan yang begitu indah tersedia di hadapannnya, Syukri yang daritadi melihatnya, mulai menggangu.
Apa kubilang? Sekarang setelah kau sampai di sini apa kau ingin kembali ke Banda Aceh? canda Syukri sembari tersenyum melihat Reza yang salah tingkah.
Tak ingin Pulang