TERKINI
NEWS

Saat Dua Perbedaan Saling Berdampingan

Dalam struktur pemerintahan gampong, tidak memadang etnis dan agamanya saling bekerjasama dalam kepengurusan desa.

IRMANSYAH D GUCI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1.5K×

DESA itu terletak di sudut Kabupaten Aceh Singkil. Di sana ada 2.523 jiwa.  Keberagaman  dan saling melengkapi satu sama lainnya. Ada beberapa suku, agama, bahasa, serta budaya multi ragam yang saling pererat menjadi satu kekuatan yang harmonis di sana.

Ya, desa itu bernama  Suka Makmur, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil. Nama desa itu menjadi trending beberapa pekan ini pascakonflik melanda wilayah tersebut. Sebelumnya, nama desa ini mungkin masih asing di telinga masyarakat luar.

Akses menuju ke kawasan itu mudah jika dilalui dari Kota Subussalam. Jaraknya hanya sekitar satu jam perjalanan.

Barangkali sisi kemanusian wilayah ini bisa dijadikan contoh untuk daerah lainnya.

Dua keyakinan yang berbeda menjalin kehidupan yang harmonis, dan saling mengisi. 60 persen dari 2.523 jiwa, mayoritasnya umat Kristen. Sisanya, 40 persen beragama Islam.

Matapencaharian masyarakat setempat tidak jauh beda dengan daerah lainnya di Aceh, rata- rata menjadi petani untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

“60 persen disini umat kristen dan 40 persen Islam, profesinya rata- rata petani,” ujar Kaur Desa  Suka Makmur, Ariyanto saat ditemui portalsatu.com di kantor geuchik/kepala desa setempat pascainsiden pembakaran salah satu rumah ibadah di wilayah itu.

Setelah kericuhan itu, Desa Suka Makmur menjadi sorotan publik seolah-olah kehidupan masyarakat disana luput dari kedamaian.

Namun hal ini terjawab saat wartawan portalsatu.com menginjak kaki di desa itu. “Inilah kehidupan kami bang, saling berdampingan, saling harmonis, menutup kekurangan satu sama lain,” kata Ariyanto.

Aparat desa itu menyebut ikatan persaudaraan di Suka Makmur terjalin baik. “Puncak konflik inilah yang membuat keruh suasana kami disini akibat orang-orang luar yang tidak bertanggung jawab. Islam dan Kristen, keduanya hanya beda keyakinan. Namun persaudaraan hal utama dipentingkan masyarakat,” katanya.

“Untukmu agamamu. Untukku agamaku, yang penting jangan mengganggu. Itulah kehidupan Kami,” ujar Ariyanto.

Demikian juga dalam struktur  pemerintahan gampong, tidak memadang etnis dan agamanya saling bekerjasama dalam kepengurusan desa.

“Di sini untuk pemerintahan desa sama-sama kita bangun, tidak memandang perbedaan. Kekuatan toleransi itu saling mengisi kehidupan masyarakat. Kebebasan aktivitas keagamaan sangat rukun,” katanya.

“Masalah keagamaan kita saling menghormati, intinya di internal kami disini tidak ada persoalan. Harapan besar masyarakat hanyalah kedamaian, bukan kekacauan. Kami hanya butuh kedamaian, persoalan norma agama kami sudah cukup mengerti disini,” ujar Ariyanto. [] (mal)
 

IRMANSYAH D GUCI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar