BANDA ACEH – Kota Budaya Eropa yang kini menjadi tempat paling favorit wisatawan dunia, Istanbul, berhasil mengurus hal mendasar penduduknya, seperti air bersih, pariwisata, dan smart city (kota cerdas teknologi). Karenanya kunjungan Wali Kota Banda Aceh dan Ketua DPRK serta rombongan ke kota dua benua tersebut dinilai sebagai langkah tepat.

Demikian kata ahli teknologi informasi (IT) dan peserta Konferensi Editor Jurnal Antarbangsa di Istanbul tahun 2015, Teuku Farhan, saat bersilaturrahim ke ruang redaksi portalsatu.com, di Banda Aceh, Kamis 14 Januari 2016.

Ketua Komunitas Masyarakat Informasi dan Teknologi (MIT) ini mengatakan, Banda Aceh yang mencanangkan Kota Wisata Islami Dunia (World Islamic Tourism), sudah sewajarnya menjadikan Istanbul sebagai rujukan.

“Di Istanbul, ada sebuah masjid memasang gambar pebnakluk Konstantinopel sultan Mehmet Al Fetih di dindingnya. Mereka memakai teknologi terkini, seperti sensor lampu. Begitu kita masuk ke tempat wudhuk, lampu menyala sendiri. Ketika tidak ada orang di sana, lampu itu padam sendiri. Itu hemat energi, dan dapat dicontoh oleh banda Aceh yang mencanangkan smart city atau kota pintas tekonologi,” kata ahli Informasi Teknologi (IT) muda ini.

Farhan mengatakan, di Istanbul, semua masjid memiliki arsitektur yang serupa dan ciri khasnya dipelihara. Bagian dalamnya memelihara kesan kental kaligrafi klasik dan mewah, namun memakai teknologi canggih terkini.

“Teknologi sensor lampu seperti itu biasanya digunakan oleh negara maju di hotel-hotel berkelas. Namun Istanbul memakainnya di masjid, pertanda mereka mengistimewakan masjid. Banda Aceh boleh mencontohi itu. Banyak lagi teknologi terbaru yang dipakai Turki untuk kepentingan umat,” kata Farhan.

Dalam masalah air bersih, Farhan mengatakan, saat menjadi Wali Kota Istanbul, yang pertama diselesaikan oleh Recep Tayyip Erdogan adalah masalah air bersih. Erdogan, kata Farhan, terkenal pada masa awal karena berhasil mengurus air di Istanbul. Bukan dengan isu terkait penerapan syariat Islam seperti jilbab. Itu, kata Farhan, saat  Erdogan sudah menjadi perdana Mentri Turki.

“Air dan pariwisata khususnya adalah di antara banyaknya keberhasilan Istanbul, kota tua yang sekarang menjadi kota terfavorit turis dunia. Yang menjadi pertanyaan saya, mengapa Pemerintah Kota Banda Aceh tidak menyertakan Dinas Pariwisata dalam kunjungan tersebut,” kata Farhan.

Farhan menilai, setiap hasil kunjungan pemerintah ke luar negeri harus diketahui masyarakat. Misalnya, mengadakan jumpa pers untuk menginformasikan hasil kunjungannya. Halitu merupakan tanggung jawab siapa saja pejabat yang ke luar negeri, apalagi kunjungan itu memakai uang rakyat.

“Tahun lalu, saya dan Teuku Zulkhairi ke Istanbul dalam rangka mengikuti Konferensi Editor Jurnal Antarbangsa di Istanbul atas biaya panitia di sana. Sepulang darinya, kawan-kawan dari PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki) mengundang kami ke acara seminar untuk membagi informasi tentang perkembangan Istanbul. Wali Kota Illiza dan rombongan pun harus menginfomasikan hasil kunjungannya,” kata Farhan.[]