Dalam beberapa tahun terakhir, dan sekarang puncaknya, Aceh dihibur oleh kabar burung atau kabar angin (isu) rencana membentuk Provinsi ALA (Aceh Lintas Antara) dan Abas (Aceh Barat Selatan), sering disebut ALA-Abas.
Apabila dipandang dari letak geografis dan sebaran penduduk menurut budaya, solusi untuk membangun Aceh adalah membagikannya ke dalam enam (6) wilayah pembangunan bidang benda (fisik) dan tiga (3) wilayah kebudayaan.
Enam wilayah pembangunan bidang benda tersebut, pertama, Banda Aceh untuk Aceh Besar, Banda Aceh, dan Sabang. Kedua, Meulaboh atau Nagan Raya untuk Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Simeulue, dan Aceh Barat Daya.
Ketiga, Barus atau Subulussalam untuk Aceh Singkil, Subulussalam, Aceh Selatan, dan Aceh Tenggara. Keempat, Redelong atau Takengon untuk Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Kelima, Bireuen atau Lhokseumawe untuk Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, dan Lhokseumawe. Keenam, Tamiang untuk Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang.
Lalu, tiga wilayah kebudayaan, pertama, wilayah Pantai Barat Selatan dan pulau sekitarnya yang penduduknya bercampur antara Aceh, Minang, dan lainnya, dengan pusat di Labuhan Haji dan sekitarnya. Kedua, wilayah pegunungan Leuser yang penduduk terbanyaknya terdiri dari suku Gayo, dengan pusat di Takengon dan sekitarnya.
Ketiga, wilayah pantai utara yang penduduk terbanyaknya berbahasa Aceh walaupun dengan dialek berbeda. Apabila wilayah pembangunan mengikuti pembagian batas wilayah menurut pemerintahan seperti kabupaten atau kota, wilayah kebudayaan menembus batas itu. Wilayah kebudayaan didasari pada masyarakat pengguna bahasa, adat-istiadat, dan budaya serumpun.
Dalam hal ini, wilayah pembangunan ditangani oleh gubernur dan bupati atau wali kota, sementara wilayah kebudayaan ditangani oleh wali nanggroe dan imum mukim. Kebudayaan dan pembangunan adalah dua hal yang berbeda.
Hal tersebut sebaiknya diterjemahkan dan dipahami secara benar oleh tokoh masyarakat supaya mampu mengabarkan sesuatu yang wajar dan benar kepada sekalian orang.
Apabila ingin membangun peradaban dan memperkuat kesejatian diri sebuah suku bangsa, sebuah provinsi tetap menjadi sebuah provinsi. Negara, provinsi, dan seterusnya adalah batas-batas politik.
Sebagai contoh, apabila provinsi ALA-Abas dibentuk, yang pertama sekali, selama beberapa tahun, pemerintahannya disibukkan dengan membangun kantor, menyusun gaji pegawai, dan semacamnya. Diperkirakan, sejak itu, apabila orang-orang tidak memperbaiki moralnya, sudah muncul para koruptor baru. Maka, apa yang untuk masyarakat? Hanya KTP model baru.
Banyak tanah di wilayah tengah dan barat-selatan Aceh sekarang milik perusahaan-perusahaan yang sebagiannya bahkan milik orang dari luar Aceh. Metaforanya, kalau segenggam lada tidak merata di dasar sebuah tampi, lada-lada itu dibagi secara merata sesuai dengan bentuk dan lekukan dasar tampi tersebut.
Sekiranya tampi dibelah, lada tetaplah berserakan, pembelahnya akan menjadi raja baru di kampung kecil yang dianggap sebuah negeri, sementara tumpukan kekayaan masih seperti tumpukan lama, tetapi di dalam wadah yang lebih kecil. Contoh dalam ukuran (skala) besar, setelah Perang Dunia II, sebagian bangsa penganut Islam di Timur Tengah mendirikan negara masing-masing setelah melawan pemerintahan kekhalifahan Turki Usmani-atas hasutan Eropa.
Apabila dibandingkan dengan masa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang masih di dalam persemakmuran atau koalisi Turki Usmani, manakah lebih maju? Antara orang Irak, Yordania, Syria, Mesir, Libya, Arab Saudi, Yaman, dan lainnya dengan orang Jerman, Inggris, Prancis, Hongaria, Rusia, Swiss, Yunani, dan lainnya, manakah yang lebih maju saat itu, apakah orang Eropa (Barat) atau orang Timur Tengah yang berada dalam koalisi Turki Usmani?
Bandingkan sekarang, setelah puluhan tahun punya negara sendiri dan tidak lagi di bawah Turki Usmani, manakah yang lebih maju antara orang Timur Tengah dan negara berpenduduk muslim lainnya dengan negara-negara di sebagian besar Eropa dan Amerika?
Dalam ukuran dunia, nasionalisme berdasarkan suku bangsa adalah fatamorgana (ilusi). Contoh yang lebih dekat, di masa awal Indonesia dibentuk, Aceh bukan sebuah provinsi, melainkan tergabung dalam pemerintahan Sumatera Utara, lalu membentuk propinsi sendiri.
Apakah sekarang, setelah puluhan tahun, Aceh sudah bahagia dan maju, sudahkah Aceh lebih maju dari kota Medan yang didirikan, dan kemudian- ditalaknya?
Begitu pun di Aceh sekarang, membelah Aceh menjadi beberapa provinsi adalah fatamorgana. Sesuatu yang dimulai dengan alasan politik kekuasaan dan kebencian akan berjalan dengan pengkhianatan. Rakyat akan terus ditindas oleh penguasa baru.