RENCANA pembentukan bursa efek khusus syariah diperkirakan akan terealisasi pada akhir tahun depan.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani mengatakan pihaknya sebagai pengusung ide ini sedang dalam tahap pematangan konsep bersama dengan Direktur Utama BEI Tito Sulistio, sebelum nantinya diajukan ke pemerintah.
“Kita sedang pelajari. Target sih akhir tahun depan sudah bisa (terealisasi). Saat ini dalam tahap karena bursa ini kan swasta perizinannya (tapi) kan kita harus kulo nuwun ke OJK, pemerintah, kita tahapannya mau rapi,” ujar Rosan seusai menghadiri Breakfast Meeting yang diselenggarakan PWI di Jakarta, Kamis (2/11).
Usulan bursa khusus syariah dilandasi keprihatinan dirinya melihat Malaysia yang begitu aktif ingin membuat syariah hub untuk kawasan ASEAN.
Padahal, jika dilihat dari sisi populasi dan negara dengan penduduk muslim terbesar, semua tersedia di Indonesia.
“Kenapa tidak kita dorong saja bursa syariah di sini sehingga syariah center ada di Indonesia. Pak Tito (Dirut BEI) bilang sembilan bulan dan kurang dari satu tahun bisa kita lakukan, jadi kita kerja sama,” ujarnya.
BEI akan membantu dari sisi administrasi serta dukungan sistem perdagangan. Kadin akan mencarikan investor.
Rosan menyebut setidaknya pada awal pembentukan bursa syariah akan ada sekitar 100 perusahaan yang juga berasal dari BEI.
“Yang bisa masuk rencananya bisa dual listing dulu. Yang ada di BEI bisa dual listing ke bursa syariah,” ucapnya.
Seperti diketahui, saat mengunjungi Dubai Financial Market (DFM), Tito melihat sudah saatnya Indonesia memiliki bursa syariah.
Terlebih, saat ini produk-produk efek syariah ditransaksikan masih melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) dan jumlahnya semakin membesar.