SAYA sarankan kepada para politisi untuk mempertimbangkan bias dari setiap pernyatannya terhadap masyarakat umum. Ide persatuan sduah tidak berhasil, banyak partai politik bermunculan, banyak ormas, banyak aliran gerakan sipil, yang disebabkan tidak ada orang kuat yang mampu mewujudkan persatuan. Akan tetapi, ide untuk meminimalisir bias dari perbedaan selalu bisa dilaksanakan.
Dengan kata lain, masing-masing kita menjaga diri, selalu berpikir dan menimbang, apakah kata-kata kita bersifat menyerang? Bagaimana kalau itu ditujukan kepada kita sebagaimana kita tujukan kepada orang lain?
Harus diperhitungkan dengan baik, apakah serangan kata-kata itu itu akan mengenai sesama Aceh dan Islam atau bukan?
Sudah belasan tahun kita lihat, akibat dari saling menyerang itu, telah menyebakan kita berada dalam masyarakat yang gaduh, ketenangan yang terusik, pembangunan yang terhenti karena orang dijebak dalam emosional yang merugikan mereka, yakni emosional politik yang mereka tidak ada keuntungan apapun karenanya.
Tujuan dari politik harus direvisi oleh politisi supaya kembali kepada ajaran Nabi Muhammad, bukan Fir'un.