TIM peretas kembali menargetkan sistem perbankan SWIFT untuk melakukan aksi kejahatan. Para peretas sendiri tahun lalu sempat membobol US$81 juta dari Bank Sentral Bangladesh.
Seorang pejabat senior SWIFT mengatakan bahwa upaya peretasan terhadap sistem keamanan mereka masih terus berlanjut.
“Upaya (peretasan) terus berlanjut. Memang itu yang kami harapkan, karena kami tak ingin mereka tiba-tiba menghilang begitu saja,” ucap Stephen Gilderdale, kepala program keamanan SWIFT dalam sebuah wawancara seperti dilaporkan Reuters.
Pernyataan Gilderdale seakan menggarisbawahi bahwa bank masih menjadi institutusi yang paling berisiko terkena serangan siber.
Peretas diketahui menargetkan komputer yang digunakan untuk mengakses SWIFT selama hampir dua bulan setelah kasus pencurian pada Februari 2016 dari rekening Bank Bangladesh di Federeal Reserve Bank of New York.
SWIFT sendiri merupakan platform yang meaghubungkan perbankan, perusahaan dan lembaga keuangan lainnya untuk bertukar pesan dan bekerja sama dengan institusi lain yang berada di belahan dunia berbeda.
Gilderdale menolak membeberkan berapa banyak peretas yang berupaya mengakses sistem SWIFT. Ia juga enggan mengatakan berapa persen di antaranya yang berhasil, berapa banyak uang yang telah dicuri, hingga kemungkinan potensi serangan mereka akan lebih cepat atau justru melambat.