SINGAPURA – Otoritas Moneter Singapura (MAS) dan Asosiasi Bank di Singapura (ABS) hari ini mengumumkan bahwa konsorsium yang mereka pimpin telah berhasil mengembangkan prototip perangkat lunak dari tiga model yang berbeda untuk pembayaran dan penyelesaian interbank yang terdesentralisasi dengan mekanisme penghematan likuiditas.
Proyek yang dilakukan bersama 11 lembaga keuangan dan lima perusahaan teknologi, adalah Tahap 2 Proyek Ubin, yang mengeksplorasi penggunaan Distributed Ledger Technology (DLT), yang dikenal sebagai teknologi blockchain, untuk pembersihan dan penyelesaian pembayaran dan surat berharga.
Ketiga model perangkat lunak yang dikembangkan adalah yang pertama di dunia yang menerapkan kelayakan pembayaran desentralisasi dengan cara yang menjaga privasi transaksional. Program Online yang ada yang digunakan dalam pembayaran antar bank bergantung pada satu antrian pembayaran yang terlihat oleh operator untuk menemukan pembayaran yang tidak tepat. Desentralisasi antrian, bisa saja berpotensi menghadapkan rincian pembayaran ke pihak yang tidak berwenang. Model terbaru di Proyek Ubin mencapai kombinasi superior antara desentralisasi dan privasi.
Accenture akan menerbitkan sebuah laporan mengenai temuan proyek dan rincian prototip yang dikembangkan. Laporan ini akan membantu bank sentral dan lembaga keuangan memulai penggunaan DLT, dalam memahami karakteristik platform dan pertimbangan desain dari platform DLT yang umum digunakan.