Maryam adalah anak Imran bin Masan, Ibunya bernama Hannah. Adik perempuan Hannah bernama Isya (bukan Nabi Isa), adalah istri Nabi Zakaria, sehingga Maryam adalah ponakan beripar Nabi Zakaria.
Jauh sebelum lahirnya Maryam, di dalam kerentaan usianya Hannah istri Imran, berdoa dengan penuh tawakal disertai nazar kepada Tuhan: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menzarkan kepada engkau, jikalau kami memperoleh anak, maka anak itu akan kami serahkan sebagai pemeliharaan rumah Tuhan (al-Bait al-Muqddas).”
Doa Hannah diterima Allah Swt., ia hamil dan melahirkan anak diberi nama Maryam. Namun sayang Imran ayah Maryam telah meninggal lebih dahulu sebelum kelahirannya. Sesuai dengan nazarnya, Maryam diserahkan ke Baitul Makdis dan dipercayakan Nabi Zakaria.
Ternyata Maryam benar menjadi anak yang salihah, sehingga menjadi pusat perhatian dan sanjungan penduduk sekitar Baitul Makdis. Akan tetapi muncul peristiwa yang membuat gadis itu bersusah hati. Pada suatu hari ia didatangi malaikat Jibril yang mengabarkan bahwa Allah Swt., akan memberinya anak laki-laki. Meskipun Maryam menolak kedatangan Jibril, tetapi tidak mampu menghindarkan diri ketika Jibril meniupkan ruh suci atas perintah Allah Swt., kepadanya, sehingga hamillah dia.
Dengan kehamilan Maryam, maka gemparlah penduduk disekitarnya dan menuduh dia telah berbuat mesum dengan laki-laki. Betapa malu dan susahnya Maryam tiadalah dapat digambarkan, karena setiap hari diperolokkan setiap orang, dan dituduhnya sebagai pelacur rendah, padahal dia merasa tak satupun lelaki menyentuh tubuhnya. Memang menurut syariat Islam demikianlah sebenarnya yang terjadi, bahwa kehadiran Maryam adalah karena kehendak Allah Swt., semata. Allah Swt., berfirman dalam Surah At-Tahrim Ayat 12.
Artinya : “Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-kitab-Nya, dan dia adalah trmasuk orang-orang yang taat.” (QS. At-Tahrim: 12)
Demikian tidak tahan menghadapi caci maki dan ejekan masyarakat disekitarnya, akhirnya menyerahkan diri kepada Allah Swt., ia pergi menjauhkan diri dari kaumnya itu ke arah timur tanpa ditemani seorangpun, dalam puncak penderitaan akan melahirkan anak laki-laki Isa tanpa dibantu satu manusiapun.