DUA puluh satu tahun silam, Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) menggelar Pameran Lukisan Karya Pelukis Aceh, di Gedung Pameran Seni Rupa Depdikbud, Jakarta Pusat. Ditjen Kebudayaan turut membukukan hasil pameran sembilan hari itu, 7-16 Desember 1994.
Menurut pihak Ditjen Kebudayaan, eksposisi seni rupa dari Aceh di Gedung Pameran Seni Rupa Depdikbud itu telah menjembatani cara berkreasi artis yang begitu familiar menggelimangi tradisi masa sebelumnya dengan artis yang mengkonsentrasikan diri dalam gerak kebebasan kaum avant garde akibat (barangkali) sedikit sekali tersentuh kerahasiaan warisan budaya tradisional.
Kerja mereka ini juga merefleksikan elemen artistik melalui imaji dan bentuk yang bergaya sekarang atau boleh jadi mencoba menemukan cara baru untuk mengatakan sesuatu yang sudah biasa. Terasa menggemakan isyarat kepada kita untuk memahami termasuk seperangkat kemungkinan yang terbuka ditawarkannya, demikian keterangan pada halaman Sekapur Sirih buku itu yang diperoleh portalsatu.com dari acehbooks.org dalam bentuk PDF (Portable Document Format), Sabtu, 19 Desember 2015.
Dikutip dari buku itu, Dirjen Kebudayaan Prof. Dr. Edi Sedyawati dalam sambutannya mengatakan, salah satu keistimewaan Daerah Istimewa Aceh adalah faktor kebudayaan yang kaya dan potensial. Namun kekayaan budaya tersebut pada umumnya belum dikenali secara nasional, khususnya dalam hal seni rupa. Karena itu, menurutnya, Pameran Seni Rupa Daerah Istimewa Aceh ini salah satu upaya pemerintah melestarikan dan mengembangkan serta memperkenalkan salah satu budaya daerahnya, yang diperlukan untuk mengisi pembangunan dalam rangka memperkaya kebudayaan nasional Indonesia.
Sedyawati menyebut Pameran Seni Rupa Daerah Istimewa Aceh yang diikuti 22 seniman dengan menggelar 105 karya lukis ini, diharapkan dapat menumbuhkembangkan dan memajukan seni rupa daerah sekaligus memperkaya wawasan para seniman.
Daerah Istimewa Aceh dengan karakteristik budaya yang bersifat islami, menurut Sedyawati, tentunya dapat memberi pengaruh besar terhadap pengungkapan-pengungkapan para perupa ataupun seniman dalam memanifestasikan karyanya, sehingga akan seiring dan sejalan dengan lingkungan budayanya. Kondisi budaya islami itulah antara lain telah memperkuat para seniman dalam memberikan corak dan ragam pada hasil karyanya yang potensial itu.
Suatu hal yang patut menjadi perhatian kita, kegiatan seni memerlukan kerja keras dan penuh dedikasi yang tinggi. Adanya suatu kegagalan harus dipandang sebagai cambuk untuk bangkit, dan sebaliknya keberhasilan harus menjadi api pembakar semangat untuk berkarya yang lebih baik, ujar Sedyawati.
Lantas, siapa saja para pelukis Aceh yang hasil karyanya dipamerkan di Gedung Pameran Seni Rupa Depdikbud itu? Dari 21 pelukis Aceh tersebut, sebagian besar putra kelahiran Aceh Tengah dan Banda Aceh. Ada pula beberapa di antaranya kelahiran Palembang, namun berkarya di Aceh. Menariknya lagi, seorang perempuan berada dalam deretan 21 pelukis itu.
Berikut nama-nama dan keterangan singkat tentang mereka, dikutip dari buku Pameran Lukisan Karya Peluis Aceh tersebut:
A.D. Pirous
Lahir di Meulaboh, Aceh (Aceh Barat, red), 11 Maret 1933. Riwayat pendidikan: 1964, lulus dari Departemen Seni Rupa ITB. 1969-1971, mempelajari desain grafis dan seni grafis di School of Art & Design, Rochester Institute of Technology, Rochester New York, USA. Pelukis yang kini menjadi staf pengajar di Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini tinggal di Jl. Cisitu Indah VI No. 4 Bandung (1994, red).
Chairul Bahri
Lahir di Gayo AcehTengah tahun 1927. Pada 1945-1949 anggota TNI AD. 1954 -1956, belajar pada Accademia di Belle Arti Roma. 1957, mendirikan Akademi Kesenian di Surakarta dengan dukungan kawan-kawan pelukis/pemahat Yogya. 1957-1960, Ketua Dewan Kurator/guru pada Akademi Kesenian Surakarta, dan guru bahasa Itali pada Akademi Musik Indonesia Yogya. 1962 1963, mengajar pada Sekolah Tinggi Seni Rupa Nasional Jakarta. 1963-1966, Sekretaris Bidang Kebudayaan Angkatan 45 Pusat. 1966- 1968,Wakil Ketua Bidang Kebudayaan Angkatan 45 Pusat. 1973, mengerjakan relief kepulauan Indonesia pada TMII 1974.
Isra Wahyudi
Lahir di Palembang, 13 Oktober 1969. Alumnus SMSR Negeri Palembang yang dalam pameran kali ini hanya menampilkan dua karyanya ini tinggal di JI. Tomat Kecamatan Gue Gajah No. 367 Banda Aceh.
Kemas Alwi
Lahir di Palembang, 10 Januari 1971. Alumnus SMSR Negeri Palembang yang kini bekerja di salah satu perusahaan swasta ini tinggal di Jl. Tomat Kecamatan Gue Gajah No. 367 Banda Aceh.
Khalil Nadir
Lahir di Banda Aceh, 12 Juni 1972. Mulal melukis tepatnya menggambar, sejak kecil secara otodidak dan mempelajari teknik melukis dari buku-buku. Awalnya, memakai beberapa media sebagai alat melukis, tetapi sejak 1989 hingga sekarang hanya memakai pensil sebagai alat melukis. Alel, demikian pelukis muda ini biasa dipanggil, telah beberapa kali mengikuti perlombaan lukis. Disamping itu, ia juga pernah mengisi kolom komik strip dan karikatur di koran Atjeh Post pada tahun 1990. Selewat tahun 1990, ia tidak aktif lagi dalam ajang perlombaan atau pameran lukisan. Ini disebabkan konsentrasinya pada kuliah, dan mengenal serta mempelajari lebih dalam tentang pensil.
Kidro
Lahir di Takengon, Aceh Tengah, tahun 1935. Sejak awal 1970-an sudah berpameran. Lukisan-lukisan Kidro adalah menggambarkan kontras sosial, yang diwujudkan secara karikatural. Bergabung di Pasar Seni Jakarta sejak tahun 1981. Pelukis senior yang telah melanglang ke beberapa negara ini kini tinggal di Jl. Ampera Raya Kavling POLRI Jl. D No. 23 Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Lian Sahar
Lahir di Aceh, Januari 1933. Setelah menyelesaikan SMA di Medan, ia melanjutkan ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jakarta. Kemudian pindah ke ASRI (sekarang Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta) dan Bagian Seni Rupa ITB Bandung. Mendapatkan bimbingan melukis dari Saptohudoyo, Abdul Salam, Sri Murtono, Edi Kartasubama, Mochtar Apin dan Achmad Sadali. Sejak tahun 1956 berekshibisi di Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Ujung Pandang, Semarang, Bandung, Surakarta, Jakarta, Medan, Banda Aceh, Singapura. Keliling Asia Tenggara, Fukuoka, New York dan beberapa kota lain di Amerika Serikat (KIAS). Terpilih sebagai pelukis terbaik dalam Biennale Seni Lukis Jakarta di Taman Ismail Marzuki Jakarta bersama AD. Pirous, Zaini, Oesman Effendi, Srihadi Sudarsono dan Achmad Sadali.
Mahdy Abdullah
Laahir di Banda Aceh, 26 Juni 1960. Sekarang sebagai desainer grafis di Hr. Serambi Indonesia (1994, red). Masih aktif kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta Banda Aceh pada jurusan Arsitektur. Tinggal di Komplek Meusara Agung, Jl. Lada No. 11 Banda Aceh. Dan studio lukisnya di Jl. Taman Siswa Lor. Abd. Muthalib No. 12 Banda Aceh.
Mahyar