BALIGE — Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi hadir di Karnaval Pesona Danau Toba 2017 yang dilaksanakan di kabupaten Toba Samosir, Balige Pada Minggu (10/9).
Menkomar Luhut menyebut Karnaval Pesona Danau Toba ini merupakan lanjutan karnaval yang sebelumnya dan juga sukses digelar. Karnaval kebudayaan seperti ini, sebut Luhut, merupakan perintah Presiden RI Joko Widodo untuk terus melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia, dimana sebelumnya juga telah digelar Pesona Karnaval Parahyangan di Bandung pada 26 Agustus lalu, yang juga dihadiri Presiden.
“Kemarin saat kunjungan ke Singapura, Pak Presiden menanyakan bagaimana persiapan Karnaval Pesona Danau Toba? Beliau sangat konsen sekali terhadap karnaval budaya seperti ini dan diharapkan bisa terus berlanjut juga di berbagai daerah di Indonesia,” kata Luhut saat sambutannya sebelum pawai Karnaval Pesona Danau Toba 2017 Minggu (10/9) dimulai.
Luhut juga mengapresiasi Karnaval yang diinisiasi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang merupakan bagian apresiasi terhadap seni budaya yang ada di Sumatera Utara. Dirinya menyebut gelaran budaya seperti ini harus didukung dengan untuk melestarikan budaya asli masyarakat setempat.
“Acaranya nanti bisa berpindah-pindah di tempat lain, dan juga kegiatannya bisa juga bermacam-macam. Tetapi tujuannya satu, untuk membangun budaya, jangan budaya kita hilang karena modernisasi. Pemerintah berkomitmen terus untuk melakukan ini,” katanya.
Luhut yang juga orang Batak, sesekali melakukan sambutannya dengan bahasa Batak menyebut jika orang Batak tidak boleh terpecah belah dan harus kompak. “Kita itu orang Batak harus kompak, orang Indonesia harus kompak. Perbedaan kita banyak, tetapi itu justru harus memperkuat kita” ujarnya.
“Mengapa karnaval ini dilakukan hari Minggu dan seusai Gereja? Karena sehabis itu semua warga bisa menikmati, kebersamaan, dan kompak. Perkenalkan ini Dirut Badan Otorita Pariwisata Danau Toba (BOPDT) Arie Prasetyo, seorang Jawa-Deli. Jadi memang kadang harus orang Jawa yang ngatur kita orang Batak biar kompak, agar Danau Toba jadi destinasi kelas dunia,” tambahnya.