TANPA terasa serangan menara WTC (World Trade Center) atau kerap dikenal dengan Tragedi WTC kini telah berumur 16 tahun (11 September 2001-11 September 2017). Lantas siapa sebenarnya dalang di balik peristiwa besar tersebut? Jika selama ini opini dunia seolah digiring oleh pemerintahan Bush untuk meyakini Tragedi WTC didalangi oleh Osama, maka ada sisi lain yang tentu pantas untuk disimak. Ini setidaknya pendapat banyak kalangan, mengapa misteri Tragedi 11 September perlu kembali diperbincangkan setelah 16 tahun berlalu? Ada empat hal penting yang mendasarinya.
Pertama, Prof Dr Morgan Reymonds (guru besar pada Texas University, USA) menyatakan Belum ada bangunan baja ambruk hanya oleh kobaran api. Kedua, Michael Meacher (mantan Menteri Lingkungan Inggris, 1997 2003) berpendapat perang melawan terorisme dijadikan tabir kebohongan guna mencapai tujuan-tujuan strategis geopolitik AS. Ketiga, Prof Dr Steven E Jones (guru besar fisika pada Birgham Young University, USA) membeberkan hasil risetnya bahan-bahan peledak telah diletakkan di bangunan WTC.
Keempat, Profesor Steven E. Jones dari Brigham Young University, Utah, yang melakukan penelitian dari sudut teori fisika mengatakan bahwa kehancuran dahsyat seperti yang dialami Twin Tower serta gedung WTC 7 hanya mungkin terjadi karena bom-bom yang sudah dipasang pada bangunan-bangunan tersebut. (Mattula Ada, Kompasiana.com, 2011)
Teori fisika Jones tersebut tentunya sangat bertentangan dengan hasil penelitian FEMA, NIST dan 9-11 Commision bahwa penyebab utama keruntuhan gedung-gedung tersebut adalah api akibat terjangan pesawat dengan bahan bakar penuh. Dalam kertas kerjanya berjudul Why Indeed Did the WTC Buildings Collapse? dan dipublikasikan harian Deseret Morning News yang terbit di Salt Lake City dalam situsnya awal November lalu, Ilmuwan dari Departerment of Physic and Astronomy, Brigham Young University itu menguraikan secara ilmiah penyebab sesungguhnya dari kehancuran tersebut.
Pihak Brigham Young University sendiri sebelumnya mengatakan bahwa isi dari kertas kerja tersebut sepenuhnya tanggung jawab penulis, bukan sebagai pandangan pihak universitas. Saya mengimbau dilakukan suatu investigasi secara serius atas hipotesa bahwa gedung WTC 7 dan Menara Kembar WTC runtuh bukan hanya oleh benturan (pesawat) dan kebakaran, tapi juga karena bahan peledak yang sudah ditempatkan sebelumnya, kata Jones.
Detik-detik keruntuhan Menara Kembar WTC, dan juga gedung WTC 7 didekatnya, disaksikan jutaan pasang mata baik secara langsung maupun melalui siaran live televisi di seluruh dunia. Sepuluh tahun telah berlalu dan berbagai peristiwa penting pun terjadi terkait dengan tragedi September hitam tersebut, di antaranya berupa perubahan kebijakan politik luar negeri AS dan serangan terhadap Afghanistan, Irak dan Libya.
Jones sendiri dalam kertas kerjanya tidak menyorot soal politik dan aksi terorisme, tapi ia memfokuskan pada teori fisika atas keruntuhan gedung-gedung tersebut. Ia tidak mau berspekulasi mengenai bagaimana bom itu dipasang dan siapa yang melakukannya.
Seorang pengusaha asal Amerika Serikat berencana melakukan reka-ulang peristiwa serangan teror terhadap menara kembar WTC di New York pada 11 September 2001 silam. Paul Salo akan menggalang dana hingga 1 juta pound sterling atau setara Rp 19,2 miliar melalui crowdfunding, untuk rencana anehnya itu. Saulo, yang sekarang tinggal di Thailand, akan membeli sebuah pesawat Boeing 747 tua dan gedung tak terpakai sebagai alat peraganya.