TERKINI
NEWS

Kolektor Batu Mulia Ini Temukan Dirham Emas dan Perak di Situs Malikussaleh

LHOKSEUMAWE - Seorang kolektor batu mulia di Lhokseumawe ternyata menyimpan dirham emas dan perak. Koin bersejarah itu ditemukan di kawasan situs Kesultanan Samudra Pasai, tepatnya di dalam tambak…

HENDRIK MEUKEK Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.7K×

LHOKSEUMAWE – Seorang kolektor batu mulia di Lhokseumawe ternyata menyimpan dirham emas dan perak. Koin bersejarah itu ditemukan di kawasan situs Kesultanan Samudra Pasai, tepatnya di dalam tambak di Gampong Kuta Kareueng, Kecamatan Samudera, Geudong, Kabupaten Aceh Utara tahun 2011 lalu.

Benda-benda itu ditemukan di seputaran situs Kesultanan terutama di lokasi tambak-tambak warga dan Cot Istana, oleh warga sekitar disebut Cot Dana. Dirham emas itu diduga, tinggalan masa Sultan Muhammad Malik Az-Zahir (1297-1326 SM) yakni putra dari Sultan Malik As-Saleh yang lebih dikenal Malikussaleh pada abad ke 11. Karena pada kepingan logam emas itu tertera tulisan “Az-Zahir”.

“Saya dapatkan sebagian kecil barang berharga dari Malikussaleh dan masih saya simpan. Pada tahun 2010 dan 2011 saya dan teman-teman sedang mencari batu mulia di kawasan tambak itu, tanpa sengaja kami menemukan dirham dalam mangkuk yang sudah pecah,” terang Sayed Ahmad Sabiq, kolektor batu mulia kepada portalsatu.com, Ahad 10 September 2017.

Selama melakukan pencarian itu juga, ia banyak mendapatkan informasi selama ini banyak benda bersejarah yang ditemukan warga di lokasi situs Malikussaleh berada di tangan mafia kolektor benda bersejarah, mereka mengambilnya dari masyarakat sekitar lokasi situs, dibeli dengan harga sangat murah,” ujar Sayed.

Pria yang akrab disapa Yed Mad mengaku sudah banyak mengkoleksi barang purbakala yang diduga kuat sebagai tinggalan masa kerajaan Samudera Pasai, antara lain, mangkuk tempat bakar logam mulia, pedang panglima perang, barang pecah belah, bebatuan mulia dalam bentuk manik-manik diduga dahulu dipakai oleh perempuan kerajaan. 

“Dalam sejarah disebutkan, bahwasnya koin emas dari Semudra Pasai diperkenalkan pada masa kejayaan Sultan Muhammad Malik Az-Zahir, itu asumsi saya, sedangkan pada dirham perak juga ada tulisan Arabnya, namun saya tidak bisa membacanya. Ada yang menyebutkan, mata uang dari logam putih itu beredar sebelum Samudera Pasai jaya,” katanya.

Sedangkan dengan temuan manik-manik, diduga datangnya dari Arab, karena dibuat dari batu mulia yang sangat sulit ditemukan yakni terdiri jenis Rubi dan Safir. Sepengetahuannya manik jenis itu juga ada pada pedang milik Rasulullah yang dipamerkan di Istana Maimun di Medan beberapa tahun lalu.

“Manik-manik sama juga ada dipedang Rasulullah yang pernah dipamerkan di Istana Maimun. Saya menduga, batuan mulia itu dikirim dari Arab untuk kerajaan Samudera Pasai, biasanya tidak hanya di pedang, batuan mahal itu juga dipasang pada mahkota putri-putri dan ratu raja kala itu,” ungkapnya lagi.

Pria yang kini membuka konter batu mulia di depan Kantor PLN Lhokseumawe mengaku tidak berani menyebutkan nilai Rupiah untuk harga barang-barang koleksinya itu. Namun bisa jadi sampai ratusan juta, bahkan miliaran. Itupun bila yang membelinya adalah pemerintah.

Yed Mad meyakini, saat ini banyak benda tinggalan Malikussaleh dikuasai kolektor jahat. Bahkan masih ada warga masih menyimpan benda-benda yang ditemukan di situs tersebut. Walaupun dinilai telat, ia berharap pemerintah segera turun tangan agar sisa-sisa benda-benda yang masih tertimbun di lokasi situs bisa diselamatkan.

“Saya tidak akan jual kepada orang lain selain kepada pemerintah, agar nantinya dipajang di museum sebagai tinggalan sejarah yang harus diketahui oleh generasi penerus,” pungkasnya.[]

HENDRIK MEUKEK
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar