BANDA ACEH – Penceramah kondang Aceh, Teungku Yusri Puteh, meminta pelaksana dan Pemerintah Kota Banda Aceh untuk menghentikan proyek Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) di Gampong Pande dan Gampong Jawa, Banda Aceh. Dia mengatakan makam siapa saja patut dihargai oleh manusia apalagi makam para ulama dan raja yang pernah berkontribusi untuk Aceh.
“Di Aceh sebenarnya masih banyak tempat lain, tidak mesti di situ (di Gampong Pande dan Gampong Jawa). Karena yang namanya makam, makam siapapun mesti dihargai. Apalagi makam seorang ulama,” ujar Teungku Yusri Puteh menjawab portalsatu.com, Minggu, 10 September 2017.
Dia mengatakan pada dasarnya makam memang dibolehkan tidak dibuat dengan baik. Namun ketika makam tidak dibuat maka akan mengundang binatang liar membuang tinja di tempat tersebut.
“Dipeuget mangat bek jeut ijak leumo keunan dijak toh ek, nyoe ek yang na dari tempat laen ta jak beuh keunan. Ta hindari binatang bek dijak keunan jak toh hek, tapi nyoe dipat ek tajak peusapat ta jak beuh keunan. Nyoe dipandang darurat, hana darurat, cukop leu tempat di Aceh, hana mesti inan,” ujar Teungku Yusri.
Meskipun demikian, Teungku Yusri mengakui tidak ada niat manusia di Aceh yang menghina ulama. “Kon nit, nyoe cit ka dipeubut, jadi hana mangat.”