BANDA Anda ingin menikmati wisata bahari dan daratan secara bersamaan? Ditemani terumbu karang beraneka warna dan populasi ikan yang kberagam, dari tuna sampai hiu martil?
Arahkan destinasi tujuan wisata Anda ke Banda, Maluku. Pada 11 Oktober – 11 November 2017 nanti, sebulan penuh, turis yang datang akan disuguhi panggung tari, musik dan teater, bazaar kerajinan tangan dan kuliner, kelas penulisan, sampai dialog sejarah.
Bagi yang suka snorkling dan diving, nama Banda pastilah tak asing terdengar di telinga. Ada sekitar 30 titik penyelaman kelas dunia disana. Terumbu karangnya tak kalah indah dari Raja Ampat di Papua Barat. Populasi ikannya pun banyak. Dari tuna sampai hiu kepala martil ada di sana. Lantas bagaimana bila tak hobi menyelam? Ingin plesiran dii daratan dengan santai?
Nah, di Banda, wisata daratannya juga tak kalh oke dengan bahari. Pulau sumber rempah-rempah ini juga banyak memiliki objek wisata di daratannya seperti Tugu Kemerdekaan, Benteng Belgica, dan Lorong Benteng Nassau. Khusus Oktober sampai November, Banda bahkan sudah menyiapkan sebuah even keren bertema besar peringatan 350 tahun and perjanjian breda.
“Sebelumnya agenda tahunan di Banda hanya berupa lomba perahu belang atau kora-kora race. Kali ini akan menggabungkan kembali kejayaan Kepulauan Banda yang hampir terlupakan,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Ona Saimima Selasa (29/8).
Ona menambahkan, agenda penting yang juga akan dilaksanakan adalah penandatanganan prasasti perdamaian di Pulau Rhun, deklarasi laut di Pulau Hatta, serta peresmian patung empat tokoh nasional yang pernah diasingkan di Banda, yakni Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Dr Cipto Mangunkusumo dan Iwa Koesoemasoemantri. Persoalan krusial ada di akses. Tapi, solusi soal ini sudah ada.