TERKINI
TRAVEL

Mahasiswa Unimal Sayangkan Aksi Membakar Bendera Malaysia di Aceh Barat

LHOKSEUMAWE - Rizki Aloy, Mahasiswa Unimal, Aceh Utara sangat menyayangkan sikap sekelompok mahasiswa di Aceh Barat yang membakar bendera Malaysia pada hari Selasa, 21/8/2017 di depan kantor bupati…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 2.9K×

LHOKSEUMAWE – Rizki Aloy, Mahasiswa Unimal, Aceh Utara sangat menyayangkan sikap sekelompok mahasiswa di Aceh Barat yang membakar bendera Malaysia pada hari Selasa, 21/8/2017 di depan kantor bupati setempat. Peristiwa itu sebagai bentuk wujud protes terhadap Malaysia yang beberapa waktu lalu, memasang bendera negara Indonesia secara terbalik pada buku yang dibagikan kepada tamu saat berlangsungnya pembukaan acara Sea Games 2017 di Kuala Lumpur.

“Kita melihat aksi sekelompok mahasiswa di Aceh Barat sudah salah kaprah dan terlalu berlebihan, dan bisa dikatakan sangat lebay dan hanya untuk mencari sensasi semata, seakan-akan merekalah mahasiswa paling nasionalis di Aceh ini,” kata Rizki.

Bahkan, kata dia, aksi mahasiswa tersebut sangat tidak senonoh tanpa melihat hubungan baik Aceh dan Malaysia yang telah terjalin sejak zaman kesultanan.

Sebagaimana umum diketahui, kata dia, banyak tokoh dari Aceh yang datang ke Malaysia untuk membantu, baik dalam melawan penjajah maupun dalam penyebaran agama Islam. Hubungan antara Aceh daan Malaysia dapat dilihat pada banyak sejarah yang menuliskan tentang persahabatan antara orang Aceh dan Malaysia.

Selain itu, juga ada tokoh Aceh Syamsuddin As-Sumatrani yang menyebarkan ajaran Islam di Malaysia sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Malaka, sebuah negara bagian di Malaysia, dan makamnya mencapai 13 meter. 
Selain Syamsuddin ada beberapa tokoh lainya, seperti Sultan Iskandar Muda yang juga datang ke Malaysia untuk membantu melawan penjajahan sehingga ini tercatat dalam sejarah bahwa hubungan Aceh dan Malaysia telah terjalin sejak kepemimpinan Kerajaan Aceh sejak zaman dulu.

“Aceh dan Malaysia sangat erat ikatan persaudaraan, banyak orang Aceh telah menetap di Malaysia, bahkan di sana ada namanya Kampung Yan yang lebih dikenal dengan sebutan Kampong Aceh, dan ini sudah ada sejak tahun 1925. Makanya sebelum bertindak gunakanlah yang dilindungi oleh rambut dan jangan sampai salah kaprah,” kata Rizki.[] (*sar)

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar