BANDA ACEH – Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk meninggalkan politik fitnah. Nova yakin, dalam berpolitik masyarakat Aceh sudah meninggalkan perilaku yang primitif. Hal itu ditandai dengan keluarnya hasil survei yang menyebutkan bahwa indeks demokrasi di Aceh terbaik se-Indonesia.
“Dalam politik tidak boleh ada fitnah. Kita harus tabayyun dan mengkroscek segala berita yang masuk,” ujar Nova, saat memberi sambutan pada Rapat Kerja Daerah II PDI Perjuangan Provinsi Aceh di Hotel Pade, Banda Aceh, Sabtu, 19 Agustus 2017 kemarin.
PDI Perjuangan, kata Nova, merupakan salah satu partai yang paling banyak mendapat fitnah dan sasaran SARA, termasuk oleh sebagian orang Aceh. Padahal, kata Nova, PDI di Aceh sama dengan partai-partai lain, yaitu sama religius dan kadernya juga muslim.
“Saya akan ikut mengklarifikasi fitnah yang ditujukan kepada PDI, dan itu sangat kejam,” kata Nova.
Untuk itu, Nova mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk meninggalkan fitnah.
Dalam pilkada lalu, Aceh membuktikan sebagai daerah yang tingkat demokrasinya tinggi. Menurutnya, calon-calon pimpinan daerah tidak menyebarkan fitnah, merasa dirinya paling hebat, dan tidak ada keinginan untuk selalu menjadi single majority. Nova menilai, ketiga hal itu merupakan perilaku primitif dalam politik yang telah ditinggalkan oleh masyarakat dan tokoh politik di Aceh.
“Kita harus tinggalkan itu,” kata Nova.
Masyarakat Aceh, lanjut Nova, telah menampakkan jati diri yang sesungguhnya, yaitu egaliter dan universal. “Bangsa Aceh tidak pernah mendiskreditkan bangsa lain. Sejarah Aceh seperti itu dan jati diri tersebut mulai menggeliat lagi,” kata Nova.