TERKINI
HEALTH

Tingkatan Mujtahid dalam Dunia Islam

Dalam memahami persoalan fikih selayaknya kita dapat mengenal tingkatan mujtahid atau ahli ijtihad dalam khazanah keilmuan Islam khususnya fikih. Berikut tingkatannya sebagaimana dikutip dari situs…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 30.4K×

Dalam memahami persoalan fikih selayaknya kita dapat mengenal tingkatan mujtahid atau ahli ijtihad dalam khazanah keilmuan Islam khususnya fikih. Berikut tingkatannya sebagaimana dikutip dari situs dinulislamnews.com:

Mujtahid Mustaqil

Adalah seseorang yang mampu membuat kaidah sendiri dalam menyimpulkan hukum fikih. Ketika ia berfatwa terhadap suatu masalah ia menggunakan kaidah-kaidah yang diciptankan sendiri, hasil dari pemahammnya yang mendalam terhadap Alquran dan Sunnah. Seperti para imam mazhab yang empat. Ibnu Abidin menamakan tingkatan ini dengan, tingkatan mujtahid dari segi syari’at.

Mujtahid Muthlaq Ghairu Mustaqil

Adalah seseorang yang memenuhi kriteria sebagai seorang mujahid mustaqil, akan tetapi ia tidak membuat kaidah-kaidah sendiri dalam menyimpulkan masalah-masalah fikihnya. Ia memakai kaidah-kaidah yang dipakai oleh para imam mazhab dalam berijtihad. Inilah yang disebut muthlaq muntashib tidak mustaqil, seperti para murid imam mazhab di antaranya, Abi Yusuf, Muhammad, Zufar dari kalangan Mazhab Al-Hanafiyah. Ibnu Al-Qasim, Asyhab, dan Asad Ibnu Furat dari kalangan Mazhab Al-Malikiyah. Al-Buwaiti, Al Muzanni dari kalangan Mazhab Asy-Syafi’iyah. Abu Bakar Al-Atsram, Abu Bakar Al-Marwadzi dari kalangan Mazhab Al-Hanabilah. Inilah yang Ibnu Abidin namakan, tingkatan mujtahid dalam mazhab.

Mereka mampu mengeluarkan atau membuat kesimpulan hukum dalam maslah fikih berdasarkan dalil yang merujuk kepada kaidah yang digunakan oleh guru-guru mereka. Walau kadang berbeda dalam bebarapa hal dengan gurunya, akan tetapi ia mengikuti gurunya dalam kaidah-kaidah pokoknya saja. Dua tingkatan mujtahid di atas sudah tidak ada pada zaman sekarang.

Mujtahid Muqayyad 

Adalah seseorang yang berijtihad dalam masalah-masalah yang tidak ada nashnya (keterangannya) dalam kitab-kitab mazhab, seperti, Al-Hashafi, Al-Thahawi, Al- Kurhi, Al-Halwani, Al-Srakhosi, Al-Bazdawi dan Qadli Khan dari kalangan Mazhab Al-Hanafiyah. Al-Abhari, Ibnu Abi Zaid Al-Qairawani dari kalangan Mazhab Al-Malikiyah. Abi Ishaq Al-Syiraji, Al-Marwadzi, Muhammad bin Jarir, Abi Nashr, Ibnu Khuzaimah dari kalangan Mazhab Al- Syafi’iyah. Al-Qadli Abu Ya’la, Al-Qadli Abi Ali bin abi Musa dari kalangan Mazhab Al- Hanabilah.

Mereka semua disebut para imam Al-Wujuh, karena mereka dapat meyimpulkan suatu hukum yang tidak ada nash-nya dalam kitab madzhab mereka, dinamakan wajhan dalam mazhab (satu segi dalam mazhab) atau satu pendapat dalam mazhab, mereka berpegang kepada mazhab bukan kepada imamnya (gurunya), hal ini tersebar dalam dua mazhab yaitu, Al-Syafi’iyah dan Al-Hanabalah.

Mujtahid Tarjih 

Adalah mereka yang mampu mentarjih (menguatkan) salah satu pendapat dari satu imam mazhab dari pendapat-pendapat mazhab imam lain, atau dapat mentarjih pendapat salah satu imam mazhab dari pendapat para muridnya atau pendapat imam lainnya. Berarti ia hanya mengambil satu riwayat dari beberapa riwayat saja, seperti, Al-Qaduri, Al-Murghainani (pangarang kitab Al-Hidayah) dari kalangan Mazhab Al- Hanafiyah. Imam Al-Kholil dari kalangan Mazhab Al-Malikiyah, Al- Rafi’i, Al-Nawawi dari kalangan Mazhab Al- Syafi’iyah. Al-Qadli Alauddin Al-Mardawi tokohnya mazhab Al- Hanabalah. Abu Al-Khattab Mahfudz bin Ahmad Al-Kalwadzani Al-Bagdadi dari kalangan Mazhab Al-Hanabalah.

Mujtahid Fatwa 

Adalah seseorang yang senantiasa mengikuti salah satu mazhab, mengambil dan memahami masalah-masalah yang sulit ataupun yang mudah, dapat membedakan mana pendapat yang kuat dari yang lemah, mana pendapat yang rajih dari yang marjuh, akan tetapi mereka lemah dalam menetapkan dalil dan mengedit dalil-dalil qiyasnya. Seperti para imam pengarang matan-matan yang terkemuka dari kalangan imam mutaakhir (belakangan), seperti pengarang Al-Kanzu (Kanzul Ummal), pengarang Al-Durur Mukhtar, pengarang Majma’ Al-Anhar dari kalangan Al-Hanafiyah, Al-Ramli dan Ibnu Hajar dari kalangan Al-Syafi’iyah.

Muqallid 

Adalah mereka yang tidak mampu melakukan hal-hal di atas, seperti membedakan mana yang kuat mana yang lemah. Ia hanya bisa mengikuti pendapat-pendapat ulama yang ada. Jumhur ulama tidak membedakan anatara mujtahid muqayyad dan mujtahid takhrij, tetapi Ibnu Abidin menjadikan mujtahid takhrij sebagai tingkatan yang keempat setelah mujtahid muqayyad, ia memberikan contoh Al-Razi Al-Jashash (wafat tahun 370) dan yang semisalnya.

Demikian tingkatan mujtahid dalam khazanah keilmuan khususnya di bidang ilmu fikih, ada tingkatannya masing-masing.  Sampai sekarang pintu ijtihad sebagian ulama masih memperbolehkannya, walaupun menuju maqam atau tingkatan tersebut sangat sukar bahkan ada juga yang menyebutnya pintu ijtihad telah tertutup.[]

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar