Salah satu tradisi dalam masyarakat yang sering terjadi dan dilakukan oleh sebagian masyarakat yaitu berdiri saat guru atau orang mulia dan sejenisnya yang datang atau melalui suatu tempat atau daerah. Pemandangan ini juga terlihat di bulan Syawal dan bulan lainnya. Bolehkah kita berdiri untuk hal ini dalam pandangan syariat?
Dalam hadist disebutkan tentang berdiri untuk menghormati, Aisyah berkata: Aku tidak pernah melihat seorangpun lebih mirip dengan Rasulullah dari Fathimah dalam sifatnya, cara hidup dan gerak-geriknya. Ketika Fathimah datang kepada Rasulullah, maka Rasulullah berdiri menyambutnya lalu mengambil tangan Fathimah, kemudian Rasulullah mencium Fathimah dan membawanya duduk di tempat duduk beliau. Dan apabila Rasulullah datang kepada Fathimah, maka Fathimah berdiri menyambutnya lalu mengambil tangan Rasulullah, kemudian mencium Rasulullah, setelah itu ia mempersilahkan beliau duduk di tempatnya.(HR. Abu Daud, Turmizi dan Nasai).
Memperkuat argumen di atas, di dalam hadist lain juga disebutkan bahwa Saidina Abu Bakar menyuruh kepada puterinya Aishah untuk berdiri dan mencium dikepala rasulullah (HR. Imam Thabrani, Kitab al-Mujam al-Kabir: 23: 108-114).
Dalam menyikapi pandangan di atas, Syekh Ibnu Hajar mengatakan seseorang berdiri untuk menyambut orang yang masuk datang ke suatu tempat dengan bertujuan untuk menghormati bukan untuk menyombongkan diri dan menampakkan keangkuhan merupakan hal yang dibolehkan dan dianjurkan. Jelaslah bahwa tentang kebolehan berdiri untuk menyambut orang yang masuk datang ke suatu tempat, jika memang bertujuan untuk menghormati bukan untuk menyombongkan diri dan menampakkan keangkuhan. (Syekh Ibn Hajar dalam kitab Talkhish al-Habir)
Dalam suatu kejadian pernah baginda Rasulullah melarang membungkuk untuk mencium tangan seseorang dan hanya membolehkan untuk bersalaman saja, hadist itu berbunyi: Wahai Rasulullah adakah harus seseorang itu membongkokkan (tunduk ruku) kepada saudaranya?” Baginda menjawab: “Tidak”. Lelaki itu berkata lagi: “Adakah mesti seseorang itu memeluk dan menciumnya?” Nabi saw menjawab: “Tidak”. Berkata lagi: “Adakah seseorang itu mengambil tangan saudaranya dan hanya bersalaman dengannya?” Baginda Nabi saw menjawab: “Ya”. (HR. Imam Turmizi, no. 2728).
Mengomentari hadist di atas, Syekh Al-Iraqi berpendapat bahwa hadist itu merupakan hadist dhaif (lemah), beliau mengutip argumen Imam Ahmad dan Imam Baihaqi (Imam Al-Iraqi, Kitab Al-Mughni). Kelemahan hadist tersebut masih menurut Al-Iraqi terdapat perawi yang bernama Hanzalah, menurut Ibnu Majah, Imam Ahmad dan Ibnu Maiin perawi tersebut dhaif, bahkan Imam Ahmad menambahkan: Sesungguhnya (Hanzalah) meriwayatkan banyak hadist yang mungkar, maka janganlah beramal dengan hadistnya.