Ali Ibn Abi Thalib, sosok yang pengaruhnya tidak bisa diabaikan dalam sejarah Islam. Sosok ini mengajarkan kita tentang bagaimana kepemimpinan dijalankan dengan tanggung jawab yang besar serta dengan teknik yang mumpuni, hingga memberikan pengaruh sangat luas.
Sebagai pribadi, Ali dikenal sebagai sosok yang gagah berani, berkarakter mulia, cerdas, sederhana, sekaligus merupakan lambang tegaknya hukum dan keadilan.
Ali adalah satu-satunya anak yang masuk golongan pertama penerima Islam. Dia adalah sepupu Nabi Muhammad SAW dari garis kakek mereka, Abdul Mutalib ibn Hakim.
Karena menjadi Muslim di usia sangat muda, Ali adalah satu dari sedikit orang Mekah yang tidak pernah menyembah berhala. Sehingga, Ali mendapat julukan Karamallahu Wajhah (semoga Allah memuliakan wajahnya).
Usai kematian ayahnya, Abu Thalib, Ali diasuh oleh Nabi Muhammad SAW. Dia lalu menikah dengan putri Nabi, Fatimah. Dari pernikahan itu, Ali dikaruniai empat anak, dua di antaranya adalah si kembar Hasan dan Husein.
Ali menjalani kehidupan yang sangat sederhana, seperti yang diajarkan Nabi kepadanya, bahkan setelah dia menikah dengan Fatimah. Mereka terbiasa makan hanya dengan bahan pokok. Dan di kesempatan lain, keduanya menjalani kehidupan berhari-hari tanpa makanan.
Bahkan saat ia diangkat sebagai khalifah, Ali tetap hidup secara sederhana. Diriwayatkan, dia makan sangat sedikit, mengatakan seorang khalifah berhak atas dua piring makanan, satu untuk dia dan keluarganya dan satu lagi untuk orang-orang miskin.
Tidak hanya itu, Ali dikenal juga sebagai sosok yang sangat adil. Kisah pendek antara seorang penganut Nasrani dengan Ali saat ia menjabat sebagai khalifah menjadi kisah tentang bagaimana adilnya Ali.