Khutbah Pertama:
Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Sesungguhnya Allah Jalla wa Ala, Dialah Yang Maha Pengampun. Allah Jalla wa Ala menjadikan siang dan malam beriringan saling berganti bagi mereka yang mau mengingat dan bersyukur. Di kedua waktu itulah terdapat perbendaharaan beramal dan perjalanan ajal. Manusia mengisinya dengan amalan-amalan mereka di waktu-waktu tersebut. Mereka akan mendapati hasil dari amalan mereka kebaikan atau kejelekan.
Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. (QS. Al-Qiyamah: 13-15).
Kita telah melewati sebagian besar dari hari-hari Ramadhan kita. sekarang kita telah memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa di antara kita yang mampu menunaikan hari-hari tersebut sesuai dengan keagungannya, maka tunaikanlah dengan sempurna. Pujilah Allah karena bertemu dengannya. Mintalah kepada-Nya agar menerima amalan di dalamnya.
Adapun bagi mereka yang menyia-nyiakannya, maka bertaubatlah kepada Allah. Karena pintu taubat itu terbuka. Hindarilah bermalas-malasan dan kemaksiatan sebelum datang dimana betis-betis terhimpit, ruh telah sampai di tenggorokan, dan sebelum jasad berserah menuju kubur. Allah Taala berfirman,
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.. (QS. At-Tahrim: 8).
Kita telah sampai pada 10 hari terakhir Ramadhan. Hari-hari yang begitu baik, penuh keberkahan, dan keutamaan. Isilah dengan ketaatan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Agung. Berpuasalah dengan sebaik-baik puasa di hari-hari tersebut. Binarkan malam-malamnya dengan cahaya shalat. Makmurkan siang dan malamnya dengan membaca Alquran, istighfar, dzikir, dan doa. Betapa banyak orang yang dianugerahi menjumpai 10 hari terakhir, namun mereka tidak mendapati apapun. Tidak ada tambahan amal ketaatan dan taubat, yang ada hanya kesia-siaan dan kemalasan. Dan kita sekaranga telah mendapatkannya dalam keadaan sehat, kuat, dan memiliki kemampuan.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam sangat memuliakan 10 hari terakhir Ramadhan. Beliau benar-benar member perhatian yang mendalam apabila masa itu tiba dengan bersungguh-sungguh dan memperbanyak ibadah di dalamnya. Beliau khususkan saat-saat tersebut untuk beritikaf di masjid, menyendiri beribadah dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Taala. Beliau bersemangat mengisi malam lailatul qadr yang sanga agung kedudukannya. Allah Taala berfirman,
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr: 3-5).
Maknya adalah malam tersebut lebih baik dari pada kurang lebih 30.000 malam. Lebih baik dalam keberkahan, ganjaran pahala, rahmat, ampunan, pengkabulan doa, dan diterimanya amal.
Oleh karena itu, hendaknya kita bersungguh-sungguh dalam mengisinya, bersemangat di kesepuluh hari tersebut. Hidupkan malamnya dengan shalat, dzikir, dan doa. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Barangsiapa yang shalat di malam lailatul qadr karena keimanan dan berharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Apabila masuk sepuluh hari terakhir, Nabi shallallahu alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh. Beliau hidupkan malam-malamnya dengan ibadah kepada Rabbnya. Beliau melakukan kesungguhan yang sangat tersebut padahal telah diampuni segala dosa dan kesalahannya yang lalu maupun yang akan datang. Beliau melakukan hal itu, dan beliau lah orang yang paling bertakwa dan takut kepada Allah. Lalu bagaimana keadaannya dengan kita? yang banyak kekurangan dan banyak berdosa.
Karena itu, hendaknya kita bersungguh-sungguh dalam menjemput malam yang penuh kemuliaan tersebut. Mengisi malam-malam tersebut, menjemput keberkahan dan kebaikannya dengan menjaga shalat-shalat yang diwajibkan, memperbanyak shalat, bersedekah, menjaga puasa dari hal-hal yang mengurangi pahalanya, mengerjakan banyak ketaatan, menjauhi perbuatan dosa, menjauhi permusuhan, saling benci, dan dendam. Karena dendam adalah salah satu sebab seseorang diharamkan dari mendapatkan keutamaan lailatul qadr.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam suatu hari keluar dari rumahnya untuk mengabarkan kepada sahabatnya tentang lailatul qadr. Lalu ada dua orang laki-laki muslim yang terlibat cekcok dan perselisihan, lalu keberkahan tersebut terangkat (sirna). Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Aku keluar untuk mengabarkan kepada kalian (kapan terjadinya) lailatul qadr lalu si Fulan dan Fulan berselisih? Sudah diangkat, dan mudah-mudahan hal itu lebih baik untuk kalian.
Bagian Dua