LHOKSEUMAWE – Proyek raksasa Bendungan Keureuto di Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, saat ini masih terhambat pembangunannya karena tersandung kasus pembebasan lahan. Bila rampung, bendungan tersebut akan mengairi dua jalur irigasi besar yang memasok air untuk lahan persawahan di 9 Kecamatan.
Waduk Keureuto lagi bermasalah hukum sama halnya seperti Bendungan Krueng Pase di Meurah Mulia, makanya saat ini Pemkab berusaha keras (mencari) solusi, karena banyak persoalan yang lebih besar yang dihadapi pemerintah bila proyek waduk raksasa tersebut terbengkalai, kata Mawardi, staf ahli Bupati Aceh Utara Bidang Ekonomi dan Investasi kepada portalsatu.com, Selasa, 30 mei 2017.
Mawardi yang juga mantan Kadis Sumber Daya Air menjelaskan, pada awal perencanaan, waduk Keureuto, Bendungan Alue Ubai dan Bendungan Krueng Pase saling berkaitan. Bendungan Keureuto akan mereduksi banjir sebanyak 216 juta kubik air dari DAS Keureuto. Dengan jumlah air sebanyak itu, nantinya akan ada proses suplai ke dua jalur irigasi yaitu ke Bendung Alu Ubai dan Krueng Pase.
Saat ini bendungan Krueng Pase melayani jalur kiri dan kanan, debit airnya selalu tidak cukup. Jadi suplai air ke 8 kecamatan di Aceh Utara dan 1 di Kota Lhokseumawe tidak pernah maksimal, katanya.