SUBULUSSALAM – Mendengar kata “pangkat” sebagai menu berbuka puasa mungkin terasa aneh. Pangkat kok dimakan?
Pertanyaan ini muncul seketika mendengar hal yang tidak lazim. Karena masyarakat umum hanya tahu, pangkat adalah bagian dari atribut atau emblem tanda kepangkatan sebagaimana dikenal di dunia militer, kepolisian atau birokrat. Sehingga tidak wajar atribut menjadi hindangan berbuka puasa Ramadan.
Namun Anda jangan terkecoh, pangkat dalam terminologi masyarakat Subulussalam dan Aceh Singkil adalah nama lokal untuk penyebutan pucuk atau umbut batang rotan (myrialepis paradoxa). Nah, umbut rotan ini banyak ditemukan di hutan sekitar wilayah Subulussalam dan Aceh Singkil. Umbut rotan yang masih segar-segar ini diolah menjadi anyang (sejenis urap) atau gulai pangkat.
Setiap menjelang Ramadan, pangkat ini mudah ditemukan di pasar trandisonal. Bahkan setiap hari Minggu, pedagang selalu menjajakan pangkat di pasar per batang (sekitar 1,5 meter) dijual dengan harga Rp5 ribu.
“Supaya enak dalam gulai pangkat biasanya campur ikan lele sale atau ikan asin juga enak,” kata Sakiyah, 40 tahun warga Subulussalam kepada portalsatu.com, Selasa, 30 Mei 2017.
Sakiyah menyebutkan, anyang atau gulai pangkat merupakan salah satu makanan tradisional yang sangat digemari masyarakat Subulussalam dan sekitarnya, terutama saat bulan puasa, masyarakat membutuhkan sajian makan yang menggugah selera makan.