TERKINI
HEALTH

Ibadah Puasa Itu Untuk Allah

Dalam Islam, seseorang yang hendak membangun bahtera rumah tangga, apabila belum ada kesanggupan dianjurkan untuk berpuasa. Ini merupakan salah satu cara untuk melemahkan hawa nafsu.…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 970×

Dalam Islam, seseorang yang hendak membangun bahtera rumah tangga, apabila belum ada kesanggupan dianjurkan untuk berpuasa. Ini merupakan salah satu cara untuk melemahkan hawa nafsu. Ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad Saw., “Wahai sekalian para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penjaga baginya”.(HR. Bukhari dan Muslim)

Kini kita telah berada di bulan Ramadan, hendaknya ibadah puasa yang diwajibkan kepada kita, harus ikhlas mengerjakannya. Seseorang yang berpuasa karena keikhlasannya, Allah akan memberi ganjaran seperti yang disampaikan dalam hadis Rasulullah Saw., “Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pernah suatu hari para sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang ibadah yang paling hebat sehingga seseorang masuk ke surga. “Wahai Rasulullah tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke dalam surga”.

Rasulullah bersabda, “Hendaklah engkau melaksanakan puasa karena tidak ada yang semisal dengannya”. (HR. Nasaai, Ibnu Hibban dan Al Hakim)

Bahkan, kandungan pahala dan kelebihan puasa sangat berbeda dengan ibadah lainnya. Ibadah puasa itu pahalanya hak prerogratif Allah SWT, Dia yang akan membalas kepada makhluknya ibadah tersebut. Ini sesuai dengan hadis, “Semua amalan bani adam adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dan puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah ia mengatakan, ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa’. Dan demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau misk. Orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan, ia bergembira ketika berbuka, dan ia bergembira ketika bertemu dengan rabbnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain juga disebutkan pemahaman yang senada. Hal ini sebagai mana dalam riwayat Bukhari disebutkan, “Ia meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena puasa untuk-Ku, dan aku yang akan membalasnya, dan kebaikan itu akan digandakan sepuluh kali lipatnya”.

Bukan hanya itu dalil untuk memotivasi dan menguatkan kita untuk rajin dan bersungguh dalam berpuasa terutama puasa Ramadan. Dalam riwayat lain Imam Muslim juga menyebutkan, “Semua amalan bani adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga 700 kali lipatnya, Allah ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan aku yang akan membalasnya, ia meninggalkan syahwat dan makannya karena aku, maka Aku yang akan membalasnya.’ Dan bagi orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya. Benar-benar mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih harum daripada harumnya misk”.[]

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar