BAHWA batu (nisan) Aceh merupakan warisan budaya Aceh yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu dilestarikan dalam rangka memajukan kebudayaan daerah untuk sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Bahwa keberadaan batu Aceh, merupakan kekayaan kultural yang mengandung nilai-nilai seni yang tinggi serta bagian dari kebudayaan Aceh yang penting sebagai dasar pembangunan kepribadian, pembentukan jati diri, serta benteng ketahanan sosial budaya masyarakat Aceh, sehingga upaya untuk menjaga kelestariannya menjadi tanggung jawab bersama semua pihak.
Langkah-langkah itu telah lama dilakukan oleh para aktivis kebudayaan di Mapesa, Cisah, dan lainnya. Baru-baru ini dibuat satu pameran batu Aceh oleh Museum Aceh. Pameran bertema ''Mengenal Batu Nisan Aceh – Sebagai Warisan Budaya Islam di Asia Tenggara”, di Museum Aceh, Banda Aceh, 9-16 Mei 2017.
Pameran ini dibuka oleh Sekda Aceh dan PYM Wali Nanggroe Aceh PYM Malik Mahmud Al-Haytar. Berlangsung di ruang pameran kontemporer dan di halaman museum. Di dalam ruangan berisi foto, batu nisan, dan penjelasannya.
Di halaman Museum, ada batu nisan yang diatur seperti mini kompleks makam sebagai bahan pameran. Batu-batu nisan tersebut adalah yang diselamatkan oleh Mapesa dan Dr Husaini Ibrahim, dibawa ke Museum untuk pameran.