BANDA ACEH Anggota DPD RI Rafli mengapresiasi pelaksanaan pameran Mengenal Batu Nisan Aceh Sebagai Warisan Budaya Islam di Asia Tenggara, di Museum Aceh, 9-16 Mei 2017. Namun, Rafli berharap ke depan Pemerintah Aceh juga lebih fokus mendukung usaha penyelamatan batu nisan Aceh maupun penelitian sejarah dan kebudayaan Islam.
Kita jangan lagi bereuforia, hanya bisa membanggakan dan mengatakan indatu kita dulu sangat hebat. Saya kira yang sangat penting, bagaimana kita menyelamatkan warisan itu dan mengambil keteladanan dari indatu untuk menjadi semangat bagi kita membangun Aceh dalam ruh keacehan yang kekinian, ujar Rafli kepada portalsatu.com, Jumat, 12 Mei 2017.
Itu sebabnya, menurut Rafli, penting dukungan dan kerja nyata pihak Pemerintah Aceh dalam usaha penyelamatan warisan Kerajaan Islam Samudra Pasai dan Aceh Darussalam, sekaligus penelitian sejarah dan kebudayaannya. Usaha-usaha tersebut, kata dia, selama ini telah ditunjukkan kaum muda Aceh tergabung dalam Centre Information for Samudra Pasai Heritage (Cisah) dan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa). Pekerjaan besar itu, kata Rafli, perlu dukungan maksimal melalui langkah konkret dari Pemerintah Aceh.
Rafli menyebutkan, pentingnya usaha penyelamatan karena batu-batu nisan tinggalan Samudra Pasai dan Aceh Darussalam dengan jumlah yang meledak merupakan bukti kuat kejayaan masa silam. Rafli yang sudah beberapa kali turun ke kawasan tinggalan Samudra Pasai, beberapa tahun lalu, melihat secara langsung nisan-nisan berukir ayat Alquran, syair dan inskripsi tentang pemilik makam baik para sultan, ulama dan pemuka kerajaan, juga bercerita tentang kehidupan.
Berdasarkan penjelasan peneliti Sejarah dan Kebudayaan Islam Taqiyuddin Muhammad saat Rafli turun ke situs-situs Samudra Pasai, nisan-nisan tersebut merupakan prasasti Islam dan dokumen masa silam yang sangat bernilai. Dan menampilkan kreativitas seni luar biasa yang dimiliki para seniman masa lalu, kata Rafli yang juga seniman Aceh.