Kemarin diperingati Milad ke-39 GAM. Susasananya jelas berbeda dengan masa lalu. Walaupun kini kata “merdeka” telah diubah makna. Setelah damai, peringatan ini lebih kepada sekadar mengenang sebuah sejarah. Esensinya telah berubah dari senjata ke politis. Terasa gemanya juga berkurang, sedikit kehilangan semangat. Apakah Deklarasi Gunong Halimon itu masih cocok dalam konteks Aceh kekinian? Apakah selaras dengan otonomi Aceh saat ini?
Sedikit mengulang bahwa deklarasi GAM 4 Desember adalah menuntut kemerdekaan Aceh dari Indonesia. Dideklarasi Hasan Tiro di tengah penguatan imperium Orde Baru. Perlawanan yang dibangun di tengah penguatan rezim Soeharto. Bahwa Hasan Tiro telah mencetus nasionalisme Aceh. Membangkitkan kebanggaan orang Aceh atas kegemilangan masa lalu. Deklarasi itu kemudian menimbulkan tindakan represif rezim Indonesia. Indonesia mengirim berbagai bentuk operasi represif. Namun gerakan GAM seperti bola salju.
Kini GAM kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, berdamai dengan Indonesia. Kini sebagian besar elite mereka menjadi pimpinan eksekutif dan legislatif di Aceh. Masihkah deklarasi itu cocok dengan isu saat ini?
Deklarasi 4 Desember 1976 dengan tegas menyebut merdeka adalah tujuan utama gerakan ini. Kini setelah damai, kata “merdeka” harus diartikan lebih sempit. Artinya, tidak lagi GAM ingin merdeka dengan pisah negara. Merdeka kini lebih sebagai upaya membebaskan diri dari kemiskinan, keterbelakangan atau “kekufuran”. Namun, apakah semangat ini masih menjadi tujuan mereka yang kini di tampuk kekuasaan?
Mereka adalah anak ideologi dari gerakan itu. Mereka yang sebelumnya telah ber-bai'at untuk memperjuangkan “kemerdekaan”. Kini reposisi makna merdeka telah sepakat diubah. Kekuasaan dari rakyat di tangan mereka juga karena faktor itu. Atas semua perjuangan itu pula kini Aceh mendapat tempat istimewa dalam tata negara Republik Indonesia. Dalam 10 tahun ini Aceh tumpah dana.